RESONANSI

Ironi Era Digital, Budaya Scroll Geser Semangat Iqra’

Yang diperebutkan secara sengit adalah perhatian manusia. Dalam lanskap ekonomi digital, perhatian telah menjelma menjadi mata uang baru.

Semakin lama seseorang bertahan di dalam suatu aplikasi, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform tersebut. Karena itu, algoritma terus mempelajari kebiasaan kita, mengenali kelemahan kita, bahkan memprediksi konten apa yang paling mungkin membuat ibu jari terus menggulir layar.

Dunia psikologi menyebut fenomena ini sebagai variable reward, yaitu pola hadiah yang tidak dapat diprediksi. Pola ini mirip dengan seseorang yang terus menarik tuas mesin judi karena berharap hadiah berikutnya akan lebih besar.

Tidak semua video yang muncul itu menarik. Namun, selalu ada kemungkinan bahwa video berikutnya akan lebih lucu, lebih mengejutkan, atau lebih menghibur.

Ketidakpastian itulah yang membuat otak kita terus mencari “hadiah” berikutnya. Tanpa sadar, kita bukan lagi pengguna teknologi, melainkan kitalah yang sedang digunakan oleh teknologi.

Akibat dari fenomena ini perlahan-lahan mulai terasa. Pertama, kemampuan fokus manusia mengalami penurunan drastis.

Membaca lima halaman buku kini terasa lebih berat daripada menonton 50 video berdurasi singkat. Hal ini terjadi bukan karena buku berubah, melainkan karena otak mulai terbiasa menerima rangsangan yang berganti setiap beberapa detik.

Kedua, kesehatan mental kita ikut terpengaruh secara negatif. Aktivitas menggulir layar yang tidak pernah selesai memunculkan rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO), kecemasan sosial, hingga dorongan untuk terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang telah dipoles sedemikian rupa.

Yang kita lihat di media sosial hanyalah panggung sandiwara. Namun, kita sering membandingkannya dengan ruang belakang kehidupan kita sendiri yang penuh kekurangan.

Ketiga, kesehatan fisik perlahan-lahan harus membayar harga yang tidak murah. Mata menjadi lelah, kualitas tidur menurun, serta leher dan punggung mengalami masalah, sementara aktivitas fisik semakin berkurang.

Ironisnya, tubuh menjadi letih bukan karena bekerja keras. Tubuh kita lelah melainkan karena terlalu lama diam menatap layar gawai.

Keempat, sektor ekonomi juga ikut terdampak. Perhatian yang terus terpecah membuat produktivitas kerja menurun secara signifikan.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button