Ironi Era Digital, Budaya Scroll Geser Semangat Iqra’
Satu pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu jam bisa berubah menjadi tiga jam. Keterlambatan ini terjadi karena konsentrasi terus diselingi oleh notifikasi media sosial tanpa jeda.
Kita merasa sibuk sepanjang hari. Padahal, sebagian besar waktu kita habis hanya untuk berpindah dari satu distraksi ke distraksi lainnya.
Namun, dampak yang paling mengkhawatirkan justru terjadi pada kehidupan ruhani kita. Ibadah memerlukan kehadiran hati yang sepenuhnya (khusyuk).
Doa memerlukan keheningan dan ketenangan. Sementara itu, membaca Al-Qur’an membutuhkan tadabbur, dan zikir membutuhkan perhatian yang terpusat.
Semua aktivitas spiritual tersebut bertumpu pada kemampuan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Ketika perhatian kita terus-menerus dilatih untuk meloncat setiap beberapa detik, kemampuan menghadirkan hati di hadapan Allah pun perlahan ikut terkikis.
Hal ini terjadi bukan karena iman kita tiba-tiba hilang. Iman terkikis karena ruang batin kita tidak pernah benar-benar merasakan kesunyian.
Mungkin karena alasan itulah, perintah Iqra’ terasa semakin relevan di era gempuran algoritma ini. Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan sebuah latihan spiritual yang mendalam.
Membaca mengajarkan kita tentang kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan untuk menunda kepuasan instan. Membaca melatih manusia untuk tinggal lebih lama bersama satu gagasan sebelum berpindah kepada gagasan berikutnya.
Barangkali inilah makna terdalam dari pertarungan zaman kita sekarang. Ini bukan sekadar pertarungan antara buku fisik dan gawai.
Ini juga bukan pula pertarungan antara teknologi dan agama. Melainkan, ini adalah pertarungan antara perhatian yang tercerai-berai dengan akal yang ingin bertumbuh.
Sebuah pertarungan antara budaya scroll yang mengajak kita terus bergerak tanpa arah, dengan semangat Iqra’ yang mengajak kita untuk berhenti, membaca, merenung, lalu memahami.
Jika peradaban Islam dahulu dibangun oleh generasi yang sangat memuliakan ilmu, maka pertanyaan yang layak kita ajukan hari ini bukan lagi seberapa banyak informasi yang telah kita konsumsi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah semua yang telah kita gulir di layar gawai membuat kita semakin berilmu, atau justru membuat kita semakin jauh dari makna Iqra’?[]






