IBADAH

Janganlah Shalat dengan Terburu-buru

Sehingga orang itu menyerah dan minta diajari Rasul. Kemudian Rasul mengajarinya shalat yang benar, sabdanya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dan sertai thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah dan beriktidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thumakninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thumakninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari, no. 793 dan Muslim, no. 397).

Dalam hadits ini, diterangkan bahwa orang yang jelek shalatnya disuruh mengulangi shalatnya sampai tiga kali oleh Rasulullah Saw, karena shalatnya tidak thuma’ninah, sama artinya belum shalat. Karena thuma’ninah itu salah satu rukun dalam shalat. Kalau rukunnya rusak, maka batallah shalatnya.

Dan apa sebenarnya yang disebut thuma’ninah itu?

Menurut Syekh Salim bin Samir Al-Hadrami dalam kitabnya “Safinatun Najah”, thuma’ninah adalah diam sejenak setelah gerakan sebelumnya, kira-kira setelah semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar lamanya waktu setara dengan membaca bacaan kalimat tasbih (subhanallah).

Berdasarkan hadis tersebut, para ahli fikih menyimpulkan setidaknya ada empat gerakan rukun dalam shalat yang wajib thuma’ninah yaitu:

Thuma’ninah ketika rukuk.

Thuma’ninah ketika i’tidal.

Thuma’ninah ketika sujud.

Thuma’ninah ketika duduk di antara dua sujud.

Khusyuk dalam Shalat

Agar kita benar-benar dapat merasakan ‘dzauq’ atau kenikmatan berkomunikasi dengan Allah Swt dalam shalat, tentu kita harus benar-benar khusyuk dalam shalat.

Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka, Allah Swt berfirman ;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun 1-2)

Ulama kontemporer Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam “at-Tafsir al-Munir” saat menafsirkan surah al-Mukminun ayat 2, yakni “alladzina hum fi shalatihim khasyi’un”, dengan menyatakan:

وهو الخضوع والتذلل لله والخوف من الله تعالى ومحله القلب فإذا خشع خشعت الجوارح كلها لخشوعه إذ هو ملكها

“Khusyuk adalah kepasrahan, kerendahan, rasa takut kepada Allah. Tempatnya di hati. Karenanya, orang yang hatinya khusyuk, tentu semua anggota badannya turut khusyuk. Sebab hatilah yang menguasai seluruh anggota badan (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, juz XVIII, halaman 14).

Salah satu caranya agar shalat kita khusyuk adalah pahami makna bacaan-bacaan shalat. Insyaallah jika paham benar akan membantu kekhusyukan shalat kita.

Semoga dengan menegakkan shalat dengan baik, kita akan menjadi hamba-Nya yang mendapat ampunan Allah dan derajat yang tinggi di sisi-Nya yakni taqwallah. Aamiin. Wallahu a’lam.

Abd. Mukti, Pemerhati Kehidupan Beragama.

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button