#Gencatan SenjataRESONANSI

Kami Selamat dari Perang, tapi Mungkin Tidak Akan Selamat dari Gencatan Senjata

Mungkin ada gencatan senjata yang berlaku, tetapi Israel masih membunuh warga Palestina di Gaza setiap hari.

Oleh: Sara Awad, Penulis Palestina yang berbasis di Gaza.

Minggu lalu, saya melangkah keluar dari tenda keluarga saya di az-Zawayda, Jalur Gaza tengah, dan menuju ke Twix Cafe, sebuah ruang kerja bersama untuk pekerja lepas dan mahasiswa.

Sepuluh hari telah berlalu sejak “gencatan senjata” diumumkan, dan saya pikir akhirnya aman untuk keluar. Pergi ke luar seharusnya menjadi langkah kecil untuk merebut kembali sebagian dari kehidupan lama saya.

Saya dan saudara laki-laki saya hampir sampai di kafe ketika kami mendengar suara yang sangat familiar — dentuman ledakan. Sebuah drone Israel telah menyerang pintu masuk Twix Cafe.

Saya terpaku. Saya berpikir, “Inilah saatnya — giliran saya. Saya tidak akan selamat dari perang ini.”

Tiga orang tewas dan beberapa lainnya terluka. Seandainya saya dan saudara saya meninggalkan tenda beberapa menit lebih awal, mungkin kami juga termasuk di antara korban.

Ketika berita menyebar, keluarga saya panik, menelepon kami berulang kali. Sinyal lemah, dan upaya mereka untuk menghubungi kami gagal. Kami baru bisa menenangkan ibu kami setelah kembali ke tenda.

Saya bertanya pada diri sendiri, gencatan senjata macam apa ini? Saya merasa lebih marah daripada takut.

Ketika perjanjian gencatan senjata mulai berlaku dan para pemimpin asing mengatakan perang telah berakhir, banyak dari kami berani berharap. Kami berpikir ledakan akhirnya akan berhenti, bahwa kami bisa mulai membangun kembali kehidupan kami tanpa rasa takut.

Namun tidak ada harapan semacam itu di bawah pendudukan Israel. Kekerasan tidak pernah benar-benar berakhir. Hari itu, ketika tentara Israel mengebom Twix Cafe, mereka juga mengebom puluhan tempat lain di seluruh Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 45 orang dan melukai banyak lainnya.

Itu adalah hari paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan. Tidak ada satu hari pun tanpa korban; Israel terus membunuh setiap hari. Hingga kini, lebih dari 100 warga Palestina telah dibunuh sejak apa yang disebut “gencatan senjata” diumumkan.

Di antara mereka terdapat 11 anggota keluarga Abu Shaaban. Pembantaian itu terjadi pada 18 Oktober, sehari sebelum pengeboman massal. Keluarga Abu Shaaban sedang mencoba kembali ke rumah mereka di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, menggunakan satu kendaraan. Sebuah bom Israel mengakhiri hidup empat orang dewasa — Sufian, Samar, Ihab, dan Randa — serta tujuh anak: Karam (10), Anas (8), Nesma (12), Nasser (13), Jumana (10), Ibrahim (6), dan Mohammed (5).

Inilah yang disebut Israel sebagai “gencatan senjata.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button