OASE

Jika Orang Jujur Saja Ditanya, Bagaimana dengan Kita?

Oleh: Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubalig Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.

“Agar Allah menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS Al-Ahzab: 8).

Al-Hasan al-Bashri, salah satu ulama besar tabi’in, membaca ayat ini lalu menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Beliau menjawab, “Jika orang-orang yang benar saja akan ditanya tentang kejujuran mereka, lalu apa yang akan kita lakukan? Kita ini?!”

Ayat ini bukan untuk orang munafik. Ayat ini untuk orang shiddiq, orang yang benar. Jika kejujuran mereka saja diuji, ditanya, dan dihisab, maka bagaimana dengan kita?

Kita yang kadang berdusta kecil untuk menutupi aib. Kita yang mengaku sibuk, padahal malas. Kita yang berkata “insya-Allah” tanpa niat menepati. Kita yang di depan manusia terlihat baik, tetapi di hadapan Allah banyak cacat.

Al-Hasan al-Bashri tidak menangis karena kehilangan dunia. Ia menangis karena sadar bahwa tanggung jawab itu berat. Semakin tinggi kejujuran seseorang, semakin berat hisabnya. Lalu bagaimana dengan kita? Jujur saja belum tentu, tetapi beraninya masih meminta keringanan?

Di zaman ini, kejujuran sering dianggap kuno. Yang penting untung, yang penting selamat, yang penting lolos. Padahal, Allah sedang mencatat setiap kata, setiap niat, dan setiap amanah. Jika para wali saja gemetar, pantaskah kita tenang-tenang saja?

Masih Ada Waktu

Ayat ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membangunkan hati yang tertidur. Mumpung masih di dunia, mari perbaiki kejujuran.

Jujur kepada Allah, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada manusia. Karena di akhirat nanti, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi.

“Ya Rabb… jika orang jujur saja akan Engkau tanya, maka ampunilah kami yang jauh dari kejujuran.”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kaum muslimin agar istikamah dalam ketaatan kepada-Nya. Amin. []

Back to top button