NUIM HIDAYAT

Jokowi dan Megawati, Kenapa Bangga dengan Banyak Gelar?

Pandangan Islam

Islam pada dasarnya tidak melarang pemberian gelar atau penghormatan. Namun, para ulama mengingatkan agar gelar tidak menjadi sarana kesombongan, pencitraan yang berlebihan, atau pengakuan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa jika pujian itu benar dan tidak dikhawatirkan menimbulkan ujub atau takabur, hukumnya diperbolehkan. Namun, jika dikhawatirkan membuat orang tersebut bangga diri atau lalai, hukumnya menjadi makruh atau bahkan terlarang.

Dasar ketetapan ini merujuk pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ ، فَإِنَّهُ الذَّبْحُ

“Jauhilah oleh kalian sikap saling memuji, karena sesungguhnya memuji itu adalah menyembelih.” (HR. Ibn Majah)

Sementara itu, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah nama, nasab, jabatan, ataupun gelar, melainkan ketakwaannya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa Islam sangat menghormati ulama, ilmuwan, dan orang-orang yang berjasa. Oleh karena itu, penggunaan gelar yang memang menjadi hak seseorang, seperti doktor atau profesor yang diperoleh secara sah, tidak bermasalah selama penghormatan tersebut tidak berubah menjadi kultus individu.

Para ulama juga mengingatkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ الترَّابَ

“Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji (secara berlebihan), maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ ، اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian menyucikan diri kalian sendiri. Allah lebih mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara kalian.” (HR. Muslim)

Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa cinta kedudukan (hubb al-jah) dan cinta popularitas merupakan salah satu penyakit hati yang paling sulit disembuhkan. Ia menyatakan bahwa kecintaan terhadap pujian sering kali jauh lebih kuat daripada kecintaan terhadap harta benda.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button