Jokowi dan Megawati, Kenapa Bangga dengan Banyak Gelar?
Ibn Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa mencintai pujian manusia merupakan ujian berat bagi orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ
“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan akan terlepas dari azab…” (QS. Ali ‘Imran: 188)
Ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang senang memperoleh pujian atau pengakuan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa salah satu penyakit hati adalah mencari kedudukan di hati manusia. Menurut beliau, orang yang terlalu haus akan pujian akan selalu bergantung pada penilaian manusia, mudah kecewa ketika tidak dihargai, serta sulit untuk ikhlas dalam beramal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepaskan ke tengah kawanan kambing lebih merusak kawanan itu daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi)
Memang tidak mudah bagi masyarakat yang hidup di era internet dan media sosial saat ini untuk lepas dari dahaga pujian orang lain. Namun, sebagai orang beriman, kita harus mampu menempatkan pujian manusia sebagai hal yang biasa.
Pujian tidak perlu dicari, tetapi jika datang, disikapi dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila tidak ada pujian atau like, yakinlah bahwa keridaan dan pujian Allah jauh lebih baik daripada pujian seluruh makhluk di muka bumi. Demikian pula dengan gelar, tidak sepatutnya diburu.
Jika didapatkan karena prestasi atau penghargaan akademik yang murni, maka wajib disyukuri tanpa harus memburu gelar dengan cara membeli atau mengorganisasi massa sebagaimana fenomena sebagian politisi.
Pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai seseorang dari sederet gelar atau titel formalnya. Masyarakat akan melihat dan mengenangnya dari karya nyata, akal budi, serta adabnya. Wallahu ‘alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






