Kami Selamat dari Perang, tapi Mungkin Tidak Akan Selamat dari Gencatan Senjata
Mungkin ada gencatan senjata yang berlaku, tetapi Israel masih membunuh warga Palestina di Gaza setiap hari.
Pada hari Minggu itu, kepanikan dan rasa tidak aman menyebar di seluruh Gaza ketika pengeboman besar-besaran dimulai. Saat ledakan terjadi di mana-mana, orang-orang bergegas ke pasar untuk membeli sebanyak mungkin makanan yang mampu mereka beli — bersiap menghadapi kembalinya perang dan kelaparan.
Sungguh menyayat hati melihat bagaimana, di tengah bom, pikiran orang-orang otomatis tertuju pada makanan. Sepertinya kami telah kehilangan selamanya rasa aman — keyakinan bahwa besok kami akan punya makanan di meja.
Dan ya, kami masih harus membeli makanan kami sendiri, karena Israel tidak hanya melanggar “gencatan senjata” dengan mengebom kami, tetapi juga menahan bantuan yang dijanjikannya untuk izinkan masuk.
Setidaknya 600 truk bantuan seharusnya masuk ke Gaza setiap hari. Namun menurut Kantor Media Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, hanya 986 truk bantuan yang masuk — hanya 15 persen dari yang dijanjikan.
Program Pangan Dunia (WFP) mencatat hanya 530 truk miliknya yang diizinkan masuk. Sementara UNRWA memiliki 6.000 truk yang menunggu di perbatasan — tak satu pun diizinkan masuk.
Kemarin, juru bicara WFP mengatakan tidak ada konvoi besar yang diizinkan masuk ke Kota Gaza; Israel masih melarang badan itu menggunakan Jalan Salah al-Din. Kebijakan Israel untuk membuat Gaza bagian utara kelaparan masih terus dijalankan.
Perbatasan Rafah dengan Mesir — satu-satunya jalan keluar kami ke dunia luar — masih ditutup. Kami tidak tahu kapan akan dibuka kembali; kapan ribuan orang yang terluka dapat melintas untuk mendapatkan perawatan medis mendesak; kapan para mahasiswa dapat keluar untuk melanjutkan pendidikan mereka; kapan keluarga-keluarga yang terpisah karena perang akan dipertemukan kembali; kapan mereka yang mencintai Gaza — yang telah menunggu begitu lama untuk pulang — akhirnya bisa kembali.
Kini jelas bahwa Israel memperlakukan “gencatan senjata” seperti tombol — menyalakan dan mematikannya sesuka hati. Pada hari Minggu, kami kembali ke pengeboman besar-besaran; pada hari Senin, “gencatan senjata” lagi. Seolah-olah tidak ada yang terjadi — seolah 45 orang tidak dibantai, seolah tidak ada rumah yang hancur dan keluarga yang tercerai-berai.
Sungguh menghancurkan hati melihat hidup kami diperlakukan seolah tidak berarti apa-apa. Sungguh menyakitkan jiwa mengetahui bahwa Israel dapat melanjutkan pembunuhan massal kapan pun mereka mau, tanpa peringatan, tanpa alasan.
Gencatan senjata ini tidak lebih dari jeda dalam perang yang kini kami yakini tak berkesudahan — sebuah momen keheningan yang bisa berakhir kapan saja. Kami akan tetap berada di bawah belas kasihan penjajah yang haus darah, sampai dunia akhirnya mengakui hak kami untuk hidup dan mengambil tindakan nyata untuk menjaminnya.
Sampai saat itu tiba, kami akan tetap menjadi angka-angka dalam berita utama tentang rangkaian pembunuhan tanpa akhir oleh Israel. []
Sumber: Al Jazeera






