#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Kepentingan AS dan Israel Berbeda Soal Iran

Trump dan Netanyahu berada dalam perang ini karena alasan yang sangat berbeda. Dan itu akan segera terlihat.

Trump juga ingin terlihat sepenuhnya mampu menegakkan visinya tentang tatanan dunia—yakni bahwa “yang kuat adalah yang benar”. Kontradiksi antara komitmennya kepada basis pendukung untuk “tidak ada perang luar negeri” dan dorongan pada keistimewaan serta kemenangan Amerika mudah diselesaikan ketika menyangkut Republik Islam, yang selama ini menjadi momok tetap.

Meski begitu, Trump dan Netanyahu tidak saling percaya. Kedua pihak tak memiliki kepentingan selain yang paling mendesak untuk melanjutkan kerja sama lebih jauh.

Begitu pengalihan perhatian memudar, keduanya akan menghadapi perang yang tak pasti. Trump akan merasakan tekanan untuk segera mengakhirinya, sementara Netanyahu justru ingin memperpanjangnya.

Trump tidak memiliki rentang perhatian dan dukungan publik yang cukup untuk perang panjang. Ia tidak bisa mengirim “pasukan darat”, dan itulah alasan di balik pesan-pesannya tentang “membantu” dan “mendampingi” rakyat Iran saat mereka mengambil alih negara mereka. Ia menghadapi kritik keras di dalam negeri—bukan hanya karena memulai perang tanpa persetujuan Kongres, tetapi juga karena potensi korban jiwa Amerika dan komitmen jangka panjang.

Netanyahu, seperti di Gaza, tak memiliki rencana nyata selain kehancuran dan kematian. Ia menginginkan perang selama mungkin untuk menjaga oposisi tetap terkendali dan menjamin kelangsungan politiknya. Tak heran pesan resmi menyatakan Israel akan bertahan “selama diperlukan”, bahwa perang ini akan “lebih lama dari perang Juni”, dan merupakan “operasi bersejarah”. Semakin tinggi retorika, semakin besar kemungkinan kampanye berubah menjadi pengeboman tanpa akhir dan tanpa pandang bulu, dengan korban sipil terus bertambah.

Kesenjangan ini akan terlihat ketika AS dan Israel mengeluarkan pernyataan yang makin berjarak, masing-masing merujuk pada alasan dan kerangka waktu mereka sendiri. Trump akan terus membuka jalur komunikasi saat Republik Islam memulai proses konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi baru—yang berarti Republik Islam masih berdiri. Israel akan tetap sengaja ambigu, menggambarkan kemajuannya dengan istilah megah dan tanpa batas seperti “perubahan rezim sejati”.

Aliansi yang tidak suci ini kemungkinan akan perlahan—lalu cepat—terurai dalam waktu dekat. Paling jauh, yang menanti mereka hanyalah kemenangan yang mahal dan merugikan (pyrrhic victory). []

Ori Goldberg memiliki gelar PhD dalam Studi Timur Tengah dengan spesialisasi pada urusan Iran. Ia adalah mantan profesor universitas dan konsultan keamanan nasional. Saat ini ia bekerja sebagai analis dan komentator independen.

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button