MUHASABAH

Kesepian tidak Selalu Berarti Sendirian

Oleh: Iftarina Tulus Apipa, Sahabat Kelas Kata dan Mahasiswi Prodi Hukum Ekonomi Syariah STISHK Kuningan

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakitnya.” (H.R. Muslim).

Hadis tersebut menggambarkan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan untuk saling terhubung. Relasi harmoni ini berlaku baik dengan Allah Swt., sesama manusia, maupun alam di sekitarnya.

Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita kerap menjumpai orang yang merasa kesepian meskipun sedang berada di tengah keramaian. Hal ini menunjukkan bahwa kesepian bukan semata keadaan ketika tidak ada subjek fisik di sekitar kita. Kesepian sejati juga dapat berupa perasaan hampa, tidak dipahami, bahkan kehilangan arah tujuan.

Dalam perspektif psikologi, kesepian dapat terjadi ketika seseorang tidak merasa benar-benar terhubung dengan orang lain secara emosional. Padahal, Islam telah mengajarkan pentingnya saling mengenal, menguatkan, menyayangi, dan menolong satu sama lain.

Secara teoretis, kesepian dapat dimaknai sebagai perasaan negatif subjektif yang berkaitan dengan kurangnya jaringan sosial (social loneliness). Rasa sepi ini juga timbul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan akan kedekatan dan pendampingan emosional (emotional loneliness). Teori komprehensif ini pernah dijelaskan oleh Valtorta dan Hanratty (2012).

Vanderweele dkk. (2012) turut menjelaskan bahwa kesepian dapat muncul akibat ketidaksesuaian antara kuantitas dan kualitas hubungan sosial. Sementara itu, Russell dan Pang (2020) memandang kesepian sebagai rasa kekurangan dalam jenis relasi, yang berujung pada menurunnya kesehatan fisik dan mental.

Lalu, mengapa seseorang bisa merasa sendirian padahal di sekelilingnya banyak berkumpul orang?

Kita mungkin sedang berada di tempat yang ramai, dikelilingi banyak teman, atau duduk di tengah kafe yang riuh. Banyak orang berbicara dan bercanda di sekitar kita, tetapi entah mengapa rasa sepi yang dingin tetap merasuk.

Rasanya seperti keberadaan kita di tempat itu tidak benar-benar dianggap nyata. Kita hadir secara fisik di tengah mereka, tetapi pikiran dan perasaan kita tidak merasa benar-benar diterima bersama mereka.

Kesepian sebenarnya tidak selalu muncul akibat tidak memiliki teman bincang. Terkadang, ia lahir karena kita merasa tidak dipahami oleh lingkaran sosial tersebut. Kita memiliki kolega, tetapi tidak memiliki ruang aman (safe space) untuk menjadi diri sendiri.

Setiap manusia membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati tanpa rasa takut dihakimi. Kita membutuhkan kawan yang tidak hanya mengenal versi diri kita saat sukses, tetapi juga merangkul saat kita lelah, gagal, dan kecewa.

1 2Laman berikutnya
Back to top button