Kesepian tidak Selalu Berarti Sendirian
Sayangnya, realitas hari ini sering memaksa kita hidup di lingkungan yang hanya mau menerima versi terbaik dan sempurna dari diri kita. Ketika sedang bahagia, kita diterima dan ditepuktangani dengan riuh.
Namun, ketika sedang terpuruk atau tidak baik-baik saja, kita justru merasa dituntut untuk menyembunyikan kerapuhan itu. Padahal, jatuh bangun dan tangis air mata juga merupakan bagian fitrah dari diri kita.
Misalnya, kita duduk di dalam ruang kelas yang ramai. Kita merasa tidak ada satu pun kepala di sana yang benar-benar mengenal kondisi mental kita. Kita ingin bercerita, tetapi takut dianggap baperan atau berlebihan.
Akhirnya, kita memilih diam, memendam, dan menyimpan semua luka itu sendirian di sudut kamar. Dari sini dapat dipahami bahwa hal mendasar yang kita butuhkan bukanlah memperbanyak orang, melainkan menemukan relasi yang membuat kita diterima seutuhnya.
Buku Berani Tidak Disukai membahas secara lugas mengenai pentingnya perasaan memiliki tempat dan kontribusi dalam hidup. Hal ini sangat beririsan dengan kebutuhan seseorang untuk merasa berharga tanpa harus terus-menerus mengenakan “topeng” kepalsuan.
Kita semua mutlak membutuhkan setidaknya satu tempat atau satu orang tepercaya yang membuat kita berani melepaskan topeng tersebut. Oleh karenanya, tidak apa-apa jika sesekali kita merasa sepi menerpa hati.
Kesepian adalah perasaan emosi yang sangat manusiawi. Yang terpenting, jangan biarkan rasa sepi itu membuat kita menarik diri dari kehidupan atau menjauh dari orang-orang yang tulus peduli.
Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah seberapa banyak riuh orang di sekitar kita. Kita sedang menavigasi sebuah hubungan bermakna yang membuat kita merasa utuh, diterima, dan mensyukuri hidup bersama Allah dan sesama. []
