MUHASABAH

Ketika Amal Bertemu Algoritma

Mulanya membagikan kegiatan keagamaan untuk mengingatkan, kemudian ia mulai merasa ada yang kurang jika unggahan itu sepi. Mulanya kamera hanya alat dokumentasi, perlahan kamera menjadi saksi yang seolah-olah harus selalu hadir dalam setiap kebaikan.

Di titik itu, yang perlu diperiksa bukan orang lain, melainkan diri sendiri. Sebab kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi hati seseorang dari apa yang tampil di layar. Kita hanya melihat potongan kecil dari kehidupannya.

Maka terlalu mudah menyebut seseorang riya hanya karena ia mengunggah amal. Yang lebih sulit justru memeriksa hati sendiri.

Jika tidak ada kamera, apakah saya masih akan melakukan kebaikan itu? Jika tidak ada like, apakah saya masih bahagia melakukannya? Jika tidak ada yang memuji, apakah amal itu tetap ingin saya kerjakan? Dan jika tidak ada seorang pun yang mengetahui, apakah saya masih merasa bahwa kebaikan itu cukup?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena riya tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar. Ia tidak selalu berupa keinginan terang-terangan untuk dipuji. Kadang ia hadir lebih halus: keinginan agar orang lain mengetahui bahwa kita adalah orang baik.

Di sinilah kita perlu membedakan antara membagikan kebaikan dan membutuhkan pengakuan atas kebaikan. Keduanya bisa terlihat sama di layar, tetapi mungkin berbeda di dalam hati.

Media sosial membuat perbedaan itu semakin sulit dikenali karena semua hal tampil dalam format yang sama: gambar, video, caption, angka tayangan, jumlah pengikut, dan komentar. Kesalehan pun berisiko masuk ke dalam logika tersebut: seolah-olah semakin banyak yang melihat, semakin bernilai amalnya.

Padahal Allah tidak menilai manusia dengan jumlah penonton. Dalam Surah Al-Mulk ayat 2, Allah menyebut bahwa Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya—bukan siapa yang paling banyak dilihat.

Kalimat itu terasa semakin relevan di zaman ketika hampir segala sesuatu ingin diukur: jumlah pengikut, jumlah tayangan, jumlah komentar, hingga jumlah orang yang hadir.

Sementara kualitas amal justru tidak selalu dapat dihitung dengan angka. Ada orang yang mengunggah banyak kebaikan tetapi tetap menyimpan ruang amal yang tidak diketahui siapa pun. Ada pula orang yang tidak pernah mengunggah aktivitas keagamaannya, tetapi kita juga tidak tahu apa yang berlangsung antara dirinya dengan Allah.

Kita tidak harus mematikan kamera. Kita juga tidak harus menyembunyikan seluruh kebaikan. Namun sesekali, mungkin kita perlu melakukan sesuatu yang tidak masuk story, tidak menjadi reels, tidak mendapatkan komentar, dan tidak diketahui siapa pun.

Bukan karena kebaikan itu tidak layak dilihat, melainkan karena kita ingin memastikan bahwa ketika semua mata manusia berpaling, kita masih punya alasan untuk berbuat baik.

Sebab pada akhirnya, ada satu yang benar-benar melihat: Allah. Dan mungkin, di tengah zaman ketika kita terbiasa mencari perhatian manusia, bentuk kesalehan yang paling sulit bukanlah terlihat baik di depan banyak orang, melainkan tetap berbuat baik ketika tidak ada seorang pun yang melihat.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button