RESONANSI

Kosmetik Moral

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Permintaan maaf yang jujur sesungguhnya tidak berhenti pada ucapan “maaf ya” yang melayang ringan di udara, melainkan harus turun menjadi sebuah keberanian untuk membuka luka yang pernah dibuatnya sendiri.

Namun, di zaman yang serba instan ini, permintaan maaf kadang bergeser menjadi sekadar formalitas spiritual yang bukan lagi merupakan upaya sungguh-sungguh untuk mengobati luka, melainkan jalan pintas demi menenangkan rasa bersalah sendiri.

Akibatnya, banyak orang hari ini meminta maaf seperti orang melempar batu dari jauh yang dilakukan secara cepat, samar, lalu berharap semuanya selesai begitu saja.

Di banyak ruang sosial—terutama menjelang Ramadan, Idulfitri, Iduladha, atau saat hendak berangkat ke tanah suci—kalimat meminta maaf sering terdengar sangat ringan seolah-olah cukup diucapkan satu kali maka semua dosa sosial otomatis lunas.

Padahal, dalam kenyataan hidup yang seutuhnya, urusan dosa sosial tersebut tidak pernah sesederhana itu.

“Kalau ada salah, saya minta maaf lahir batin.” Kalimat yang terdengar indah dan religius tersebut bagi sebagian korban justru terasa menyakitkan.

Hal itu terjadi bukan karena mereka tidak mau memaafkan, melainkan karena mereka dipaksa menerima pengakuan yang kabur dan memaafkan sesuatu yang bahkan pelakunya sendiri tidak mau jujur mengakuinya.

Akibatnya, tidak ada kejelasan mengenai apa salahnya, kapan dilakukan, kerusakan apa yang ditimbulkan, serta bagaimana tanggung jawabnya akan diselesaikan.

Dalam banyak kasus, permintaan maaf model seperti ini malah berubah menjadi tameng moral atau kosmetik yang tampak sopan di permukaan, tetapi kosong di dalam.

Farid adalah salah satu orang yang pernah mengalami getirnya pengaburan makna maaf tersebut. Namanya pernah dihancurkan di grup kantor oleh rekannya sendiri melalui tuduhan penggelapan dana yang tidak pernah terbukti.

Dampaknya, bertahun-tahun ia harus menanggung cibiran, promosinya tertahan, dan hubungannya dengan keluarga retak karena tekanan mental yang hebat.

Ketika keadaan mulai reda, pelaku datang sambil tersenyum kecil dan berkata, “Kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan, saya minta maaf ya.”

Farid menatapnya lama lalu bertanya pelan, “Salah yang mana?” Lelaki itu seketika gelisah dan menjawab, “Ya sudahlah, yang penting saya sudah minta maaf.”

Kalimat terakhir itu sering menjadi tempat persembunyian paling nyaman bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab.

Fokus mereka bukan lagi pada pemulihan korban, melainkan pada usaha menyelamatkan diri sendiri dari rasa bersalah.

Mereka ingin mendapatkan status sebagai “orang baik” karena merasa sudah meminta maaf tanpa mau menanggung beban dari kesalahan yang mereka lakukan.

Hal serupa terjadi dalam lingkup personal yang intim, seperti kisah di sebuah grup WhatsApp keluarga besar sehari menjelang Lebaran saat Rahmat mengirim pesan panjang berisi permohonan maaf lahir batin yang normatif.

Puluhan anggota grup langsung membalas dengan ucapan serupa, tetapi Farida hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya.

Tiga tahun lalu, Rahmat ternyata pernah memfitnah dirinya dalam urusan warisan keluarga hingga mengakibatkan nama Farida rusak, hubungan saudara retak, bahkan ibunya sempat sakit memikirkan pertengkaran itu.

Rahmat tidak pernah sekalipun menyebut apa kesalahannya dan hanya datang dengan kalimat umum.

“Dia meminta maaf supaya dirinya tenang, bukan supaya luka orang lain sembuh,” kata Farida lirih kepada suaminya.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button