INTERNASIONAL

Kunjungi Gedung Putih, Netanyahu Lobi Trump soal Perang Iran dan Posisi Politiknya

Apa yang Saat Ini Menjadi Perbedaan Pendapat antara Trump dan Netanyahu?

Dahulu, Trump dan Netanyahu dikenal sebagai dua pemimpin yang memiliki hubungan politik sangat erat. Pada Oktober tahun lalu, Netanyahu bahkan memberikan pujian setinggi langit. Ia menyebut Trump sebagai “sahabat terbesar yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih.”

Trump pun sempat membalas pujian tersebut secara langsung. Dalam sebuah kunjungannya ke Israel pada 2025 lalu, ia memberikan selorohan balasan.

“Dia bukan orang yang mudah, bukan orang yang paling mudah diajak bekerja sama, tetapi justru itulah yang membuatnya hebat,” ujar Trump.

Namun, perang melawan Iran memperlihatkan dinamika yang berbeda saat ini. Mulai muncul keretakan dalam keselarasan politik antara Netanyahu dan Trump.

Perang Melawan Iran

Bulan lalu, Trump dikabarkan menyebut Netanyahu sebagai “gila sekali” (f**** crazy) dalam sebuah percakapan telepon. Trump menuduhnya menghambat upaya diplomatik Amerika Serikat untuk mengakhiri perang melawan Iran.

Trump menilai Netanyahu terus melanjutkan serangan ke Lebanon. Ia juga dianggap mengambil berbagai langkah lain yang berpotensi menggagalkan perundingan damai dengan Iran.

Pertanyaan kemudian muncul mengenai kemungkinan Netanyahu menyetujui perjanjian damai dengan Iran. Menanggapi hal ini, Trump memberikan pernyataan kepada Financial Times. “Dia tidak akan punya pilihan,” ujar Trump.

Trump kemudian memberikan penegasan tambahan terkait kewenangannya. “Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya, bukan dia,” tegasnya.

Para pengamat politik menilai kedua pemimpin tersebut digerakkan oleh kepentingan politik masing-masing. Kepentingan tersebut kini dinilai justru saling bertabrakan.

Di Amerika Serikat, perang dengan Iran sangat tidak populer di mata publik. Karena itu, Trump sangat membutuhkan sebuah kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik tersebut.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada pihak Israel. Bagi Netanyahu, berlanjutnya perang justru dinilai dapat memberikan keuntungan politik di dalam negeri menjelang pemilu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button