INTERNASIONAL

Kunjungi Gedung Putih, Netanyahu Lobi Trump soal Perang Iran dan Posisi Politiknya

Isu “Pergantian Rezim” di Iran

Salah satu perbedaan paling mendasar antara kedua pemimpin adalah mengenai gagasan regime change di Iran. Konsep ini berarti upaya pergantian rezim secara total di negara tersebut.

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan kembali mencoba peruntungannya. Ia diprediksi akan berusaha menjual gagasan pergantian rezim di Teheran ketika bertemu Trump di Gedung Putih.

Namun, menurut Vatanka, usulan itu kemungkinan tidak akan diterima dengan baik. Trump diyakini akan secara tegas menolaknya.

“Saya rasa Presiden Trump tidak menginginkan hal itu. Secara politik, perang ini sangat tidak populer di Amerika Serikat,” ujar Vatanka.

“Karena itu, masih harus dilihat apa yang sebenarnya akan diperoleh Perdana Menteri Netanyahu dari pertemuan ini,” tambahnya.

Vatanka juga mengingatkan bahwa pertemuan-pertemuan sebelumnya antara Trump dan Netanyahu di Washington memiliki pola khusus. Pertemuan mereka sering kali diikuti oleh meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Karena itu, masih belum jelas apakah pertemuan kali ini akan memutus pola tersebut atau tidak.

Ia menambahkan bahwa banyak pejabat Israel masih merasa tidak puas terhadap pemerintahan Trump. Ketidakpuasan ini dipicu oleh nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati dengan Teheran.

Menurut mereka, Israel memiliki persepsi ancaman yang berbeda terhadap Iran. Hal ini dinilai tidak sejalan dengan pandangan Amerika Serikat.

Karena itu, para pejabat Israel mendesak Netanyahu agar terus menekan Trump. Mereka ingin agar Amerika Serikat mengambil sikap lebih keras terhadap program rudal balistik dan program nuklir Iran.

Menurut Vatanka, pemerintahan Trump berpandangan bahwa kemampuan militer Amerika Serikat untuk bertindak terhadap Iran memiliki batas.

“Tanggapan pemerintahan Trump adalah bahwa hanya ada sedikit hal yang dapat dilakukan Amerika Serikat secara militer. Terkecuali jika mereka memutuskan untuk menginvasi dan menduduki Iran,” ucapnya.

“Dan itu adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak dianggap serius oleh siapa pun,” tambah Vatanka.

Sementara itu, sebelum berangkat menuju Washington, Netanyahu menyampaikan sebuah pernyataan video.

“Dalam masa-masa yang rumit seperti sekarang, kita harus bertindak dengan tekad yang besar sekaligus kebijaksanaan yang besar. Kami akan membahas seluruh isu yang ada dalam agenda, terutama Iran,” ujar Netanyahu.

Ia juga menegaskan komitmen Israel terkait keamanan nasionalnya. “Tentu saja tujuan kami adalah melindungi keamanan kami dan juga memperluas lingkaran perdamaian di sekitar kami,” tambahnya.

Lebanon

Israel juga tetap bersikeras menolak menarik pasukannya dari Lebanon. Pemerintah Israel merasa berhak untuk melancarkan serangan udara ke wilayah tersebut kapan pun. Langkah ini diklaim sebagai tanggapan mutlak atas apa yang mereka sebut sebagai ancaman.

Menurut laporan Axios, Trump telah menelepon Netanyahu pada awal Juni lalu. “Sekarang semua orang membencimu, semua orang membenci Israel karena hal ini,” kata Trump.

Sementara itu, seorang pejabat Israel dikutip oleh CNN terkait arahan Netanyahu kepada kabinet keamanannya pada hari Minggu. Ia menyebut bahwa pemerintahan Trump menginginkan Israel menarik pasukannya dari Lebanon, Suriah, dan Gaza.

Namun, Netanyahu bersikukuh dengan pendiriannya. Ia secara tegas menyatakan akan menolak usulan tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button