Kunjungi Gedung Putih, Netanyahu Lobi Trump soal Perang Iran dan Posisi Politiknya
Kesepakatan Pesawat Tempur AS-Turki
Koresponden Al Jazeera, Alan Fisher, juga mencatat sumber ketegangan lain antara Trump dan Netanyahu. Hal ini berkaitan dengan rencana Amerika Serikat menjual pesawat tempur F-35 kepada Turki.
“Netanyahu tidak menginginkan hal itu terjadi. Ketika Trump ditanya mengenai isu tersebut dalam beberapa jam terakhir, ia menjawab bahwa Amerika akan menjual pesawat kepada siapa pun yang ia inginkan,” ujar Fisher.
“Karena itu, pertemuan di Gedung Putih pada hari Selasa bisa menjadi pertemuan yang sangat menarik,” katanya.
Dalam wawancara dengan Fox News pada bulan Juli, Netanyahu menyampaikan kekhawatirannya secara lugas.
“Saya tidak berpikir mereka (Turki) seharusnya diberi F-35 atau mesin untuk pesawat tempur mereka, karena hal itu akan mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah,” tegasnya. “Pada akhirnya keamanan ini dijamin oleh keunggulan udara Israel, dan juga oleh kehadiran Amerika di kawasan tersebut,” tambahnya.
Jadi, Apakah Trump dan Netanyahu Masih Sepakat dalam Beberapa Hal?
Saat ini memang terdapat sejumlah perbedaan kebijakan antara kedua pemimpin. Hal ini terutama terkait nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni.
Kesepakatan tersebut memuat ketentuan mengenai gencatan senjata regional. Wilayah Lebanon turut termasuk di dalamnya.
Selain itu, seorang pejabat Gedung Putih juga telah memberikan pernyataan pada Februari lalu. Ia menyebut pemerintahan Trump menentang setiap upaya Israel untuk mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Meski demikian, Netanyahu tetap berusaha meredam kesan adanya keretakan hubungan dengan Trump. Ia secara terbuka menegaskan bahwa hubungan mereka “baik-baik saja”.
Dalam wawancara dengan Fox News pada awal Juli, Netanyahu kembali memuji Amerika Serikat dan Donald Trump.
“Amerika telah menjadi kekuatan besar bagi kebaikan. Tanpa Amerika, tidak akan ada demokrasi di dunia dan tidak akan ada kebebasan di dunia,” pujinya.
Netanyahu menyatakan bahwa wajar jika terdapat beberapa perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel. Namun, ia menyebut kedua negara tetap merupakan “sekutu teladan”.
“Hubungan saya dengan Presiden baik-baik saja. Kami memiliki cara untuk menyelesaikan perbedaan sebagai sekutu yang saling menghormati,” tambahnya.
Namun demikian, seorang pejabat Israel mengatakan kepada CNN bahwa penjadwalan pertemuan dengan Trump tidaklah mudah. Pertemuan tersebut dikabarkan sempat menemui jalan buntu.
Netanyahu baru memperoleh konfirmasi mengenai jadwal pertemuan tersebut belakangan. Hal ini terjadi setelah diumumkannya upacara penghormatan terakhir bagi Lindsey Graham.
Sementara itu, Trump memberikan pernyataan saat berada di dalam pesawat Air Force One menuju Michigan pada hari Senin. Ia menegaskan kepada wartawan bahwa Israel tetap membutuhkan Amerika Serikat.
“Tahukah Anda siapa yang tidak akan bisa bertahan tanpa kami? Israel,” sebut Trump. “Bibi akan datang, dan dia akan mengatakannya kepada Anda,” imbuhnya menyebut panggilan akrab Netanyahu.
Trump kemudian melanjutkan pernyataannya dengan penuh keyakinan.
“Kalau saya tidak turun tangan, dan saya tidak menghancurkan apa yang pada dasarnya adalah fasilitas senjata nuklir yang hampir jadi itu hingga menjadi debu, Israel sudah akan musnah beberapa bulan yang lalu,” sesumbarnya.
Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa dirinya dan Netanyahu tetap saling mendukung. Keduanya diklaim memiliki hubungan yang erat. “Kami masih cukup dekat,” pungkas Trump.






