OASE

Makna Sebuah Kepemimpinan

Memimpin adalah aktivitas yang didamba setiap orang. Sebab ia adalah bagian dari penampakan naluri manusia, yaitu naluri ingin eksis dan diakui keberadaannya.

Allah SWT berfirman:

{ قَالَ ٱجۡعَلۡنِی عَلَىٰ خَزَاۤىِٕنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّی حَفِیظٌ عَلِیمࣱ }

“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf : 55).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda,

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Kelak kalian akan begitu berlomba-lomba (tamak) pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal.” (HR. Bukhari no. 7148).

Sebab itu Islam menuntun, agar naluri ingin memimpin ini membawa keberkahan dan keselamatan bagi pelakunya dan bagi yang dipimpinnya.

Apalagi memimpin sebuah negara, kepemimpinannya harus sampai mengantarkan pada keselamatan diri dan rakyatnya. Keselamatan yang tidak hanya di dunia saja namun hingga akhirat.

Sabda Rasulullah Saw:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قُلتُ: يَا رسُولَ الله، أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا».
[صحيح] – [رواه مسلم]

“Dari Abu Dzar -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?’ Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.'” (HR. Muslim).

Maka modal pertama kepemimpinan adalah amanah dan berpengetahuan, swbagaimana yang digambarkan dalam QS. Yusuf ayat 55. Artinya tidak boleh memimpin tanpa ilmu, dan tidak boleh menyerahkan kepemimpinan kepada orang bodoh tak berilmu. Sebab jika orang bodoh memimpin, ia akan membuat rakyat nya menderita hidup di dunia dan akhirat, sebab tidak tahu makna sebuah amanah kepemimpinan adalah untuk menunaikan hak dan kewajiban kepemimpinan, bukan untuk menghianati hak dan kewajiban kepemimpinan.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button