#Ramadhan 1447 HNUIM HIDAYAT

Perbedaan Awal Ramadhan, Salah Pemimpin Negeri-Negeri Islam?

Hampir tiap tahun umat Islam ribut soal awal Ramadhan, Idulfitri dan Iduladha. Siapa yang salah?

Bila kita renungkan, saat ini Muhammadiyah telah mengeluarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kalender ini berupaya untuk menyatukan awal bulan Hijriyah (seperti Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah) secara global.

Sayang, upaya Muhammadiyah ini ‘tidak disetujui‘ ormas-ormas Islam lain, sehingga yang menggunakannya kebanyakan warga Muhammadiyah. Ormas-ormas lain, cenderung mengikuti pimpinan ormasnya.

Selain itu, KHGT ini tidak diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Sehingga rakyat Indonesia juga merasa tidak terikat dengan KHGT ini.

Alangkah bagusnya, kalau pimpinan ormas-ormas Islam di tanah air mendesak pemerintah untuk membuat Kalender Hijriyah Global. Indonesia bisa memelopori dengan mengundang ahli-ahli astronomi Islam seluruh dunia untuk membuat Kalender bersama.

Sebenarnya sejak 1970-an upaya ini pernah dilakukan. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pernah membahas perlunya kalender Islam global.

Dalam Konferensi Istanbul 2016 di Turki juga pernah membahas hal ini. Pertemuan itu dihadiri ulama, ahli astronomi dan perwakilan negara-negara Islam. Pertemuan itu kabarnya telah menghasilkan KHGT, tapi entah mengapa belum tersosialisasi di Indonesia, Malaysia dan lain-lain.

Di media massa, tersebar tulisan bahwa Arab Saudi, Indonesia, Malaysia (dll) diantaranya termasuk yang menolak gagasan ini. Mereka masih mempertahankan rukyat lokal.

Dunia yang sudah canggih ilmu astronominya sekarang, sebenarnya aneh kalau ada negara yang masih mempertahankan rukyat (lokal). Kalau masih menggunakan rukyat, bagaimana kalender global tunggal bisa dibuat?

Memang repot kalau pemimpin-pemimpin negeri Islam masih memikirkan negerinya sendiri-sendiri. Tidak memikirkan pentingnya penyatuan dunia Islam, salah satunya lewat penyatuan kalender hijriyah.

Ulama besar Syekh Yusuf al Qaradawi termasuk yang mendukung kuat dibuatnya Kalender Hijriyah global. Menurutnya, Islam adalah agama universal, tidak logis sebenarnya puasa dan hari raya dengan tanggal yang berbeda-beda. Ilmu astronomi modern yang sudah sangat akurat ini, bisa dijadikan dasar untuk penyatuan ini. Jadi menurutnya, tidak selayaknya umat Islam terpecah dalam penentuan hari raya, padahal mereka memiliki ilmu yang dapat menyatukan.

Cendekiawan Islam, Dr Taha Jabir Al-Alwani juga menyatakan bahwa isu kalender ini bagian dari proyek peradaban Islam global. Dengan kalender Islam global, maka akan memperkuat identitas umat, memudahkan koordinasi dunia Islam dan mengurangi konflik tahunan awal Ramadhan, Idulfitri dan Iduladha. Persatuan waktu menurutnya adalah bagian dari persatuan visi umat.

1 2Laman berikutnya
Back to top button