DAERAHMUDA

Malam Minggu di RM Sarimaya, Puluhan Gen Z Bogor Ikuti Kajian Healing with Qur’an

Analogi itu membuat banyak peserta mengangguk pelan. Sebab sering kali yang perlu diperbaiki bukan keadaan di luar diri, melainkan hati yang berada di dalam dada.

Sesi kedua menghadirkan Rizky Fadhilah, seorang hypnotherapist yang banyak berbicara tentang kesehatan mental generasi Z.

Ia memulai dengan fenomena yang setiap hari ditemui anak muda: budaya mencari validasi melalui TikTok, Instagram, dan YouTube. Menurutnya, media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat bahagia, produktif, sukses, dan sempurna.

“Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kehidupan orang lain,” katanya.

Di balik foto yang estetik dan video yang viral, banyak orang justru menyimpan kecemasan, rasa tidak berharga, hingga luka batin yang tidak pernah dipublikasikan.

Rizky menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda menghadapi masalah. Ada yang menangis, mencari hiburan, makan berlebihan, berbelanja, hingga terus-menerus bercerita kepada orang lain. Namun semua itu bisa menjadi pelarian apabila akar persoalannya tidak pernah disentuh.

Ia kemudian menyoroti luka yang berasal dari pengalaman masa lalu dan trauma keluarga, termasuk fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam kehidupan anak. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi pola berpikir, hubungan sosial, hingga perkembangan kepribadian apabila tidak dihadapi dengan baik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masa lalu bukanlah hukuman seumur hidup. “Berdamai dengan diri sendiri dimulai dari menerima kenyataan, memaafkan dengan tulus, dan tidak menyangkal apa yang sedang kita rasakan,” pesannya.

Sebagai langkah praktis, Rizky menyarankan peserta membiasakan journaling. Menulis perasaan ketika sedang tertekan dapat membantu seseorang mengenali emosi dan menemukan luka yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan sehari-hari.

Menjelang akhir acara, lampu-lampu temaram halaman Sarimaya menjadi saksi sesi yang paling menyentuh. Ketua HWQ Arya Adhi Utama memimpin muhasabah, mengajak seluruh peserta menundukkan kepala dan memanjatkan doa.

Ia memohon agar Allah menguatkan iman dan Islam para pemuda, membimbing mereka menjadi generasi yang taat, serta menjalani hidup sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Lantunan doa yang lirih membuat suasana berubah haru. Beberapa peserta tampak menyeka air mata, sementara yang lain tetap menengadahkan tangan dengan mata terpejam, larut dalam harapan akan ampunan dan ridha Allah SWT.

Malam itu, Sarimaya Imah Bancakan bukan sekadar tempat menikmati kuliner Sunda. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara anak muda dan Al-Qur’an—sebuah pengingat bahwa “have” belum tentu berarti mental aman, karena ketenangan sejati lahir ketika hati kembali kepada Allah. []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button