IBRAH

Kisah Ukasyah yang Dirindukan Surga

Oleh: Imam Nur Suharno (Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat)

Pada suatu hari, Rasulullah saw. meminta beberapa sahabat membawa Beliau ke masjid. Rasulullah saw. didudukkan di atas mimbar, lalu Beliau meminta Bilal memanggil seluruh sahabat untuk berkumpul.

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai sahabat-sahabatku semua, aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu bahwa sesungguhnya Allah Swt. adalah Tuhan yang layak disembah?”

Seluruh sahabat menjawab dengan suara bersemangat, “Benar, wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang layak disembah.”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Persaksikanlah, ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka.” Beliau bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Sampailah pada satu pertanyaan yang membuat para sahabat merasa sedih dan terharu.

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya, aku akan pergi bertemu Allah. Sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian, adakah aku berutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan utang tersebut. Sebab, aku tidak mau jika bertemu dengan Allah dalam keadaan berutang kepada manusia.”

Ketika itu seluruh sahabat diam. Dalam hati masing-masing, mereka berkata, “Mana ada Rasulullah saw. berutang kepada kita? Kamilah yang memiliki banyak utang kepada Rasulullah.”

Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki yang bernama Ukasyah.

Ia berkata, “Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap utang, aku minta Engkau selesaikan. Namun seandainya bukan utang, tidak perlu Engkau berbuat apa-apa.”

Ukasyah pun mulai bercerita, “Aku masih ingat ketika Perang Uhud dulu. Suatu ketika Engkau menunggang kuda, lalu Engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Akan tetapi, cemeti tersebut tidak mengenai belakang kuda, melainkan terkena dadaku karena ketika itu aku berdiri di sebelah belakang kuda yang Engkau tunggangi, wahai Rasulullah.”

Mendengar hal itu, Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya itu adalah utang, wahai Ukasyah. Jika dulu aku memukulmu, hari ini aku akan menerima hal yang sama.”

Dengan suara agak tinggi, Ukasyah berkata, “Jika begitu, aku ingin melakukannya, wahai Rasulullah.”

Ukasyah seakan tidak merasa bersalah mengatakan hal itu. Ketika itu, sebagian sahabat berteriak marah kepada Ukasyah.

“Sesungguhnya engkau tidak berperasaan, wahai Ukasyah! Bukankah Baginda sedang sakit?” seru mereka.

Ukasyah tidak menghiraukan teguran itu. Rasulullah saw. lalu meminta Bilal mengambil cemeti di rumah Fatimah. Setelah cemeti diambil, Ukasyah melangkah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba-tiba, Abu Bakar berdiri menghalangi Ukasyah.

1 2Laman berikutnya
Back to top button