NUIM HIDAYAT

Menarik, Sikap Amien Rais dan Habib Rizieq terhadap Presiden Prabowo

Banyak pengamat politik menilai bahwa era reformasi ternyata tidak membuat Indonesia menjadi lebih baik daripada zaman Pak Harto.

Sikap Habib Rizieq pun senada dengan Amien Rais. Dalam acara reuni alumni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Habib berpesan, “Jadi sekali lagi pemerintahan yang baru ini jangan kita ganggu, kita beri kesempatan.“

Namun, Habib tetap mendorong masyarakat untuk mengkritisi pemerintahan saat ini. Menurutnya, mendukung pemerintah tidak harus dilakukan dengan cara menjilat.

“Kita dorong, tetapi tetap kita kritisi. Jadi bukan mendukung dalam arti kata menjilat, memuji yang nggak berhak dipuji, Saudara, jangan, jangan, kita tetap amar makruf nahi mungkar, ikhlaskan niat hanya mencari rido Allah SWT,” tuturnya.

Habib juga menyatakan, ”Kita mohon kepada Allah, agar pemerintahan Prabowo ini dibersihkan dari orang-orang bermasalah, orang-orang yang selama ini bikin susah rakyat, orang-orang saudara yang melanggar HAM, yang terlibat pembunuhan, terlibat korupsi, kita mohon agar mereka disingkirkan oleh mereka disingkirkan oleh Allah sejauh-jauhnya dan dihancurkan oleh Allah sehancur-hancurnya.”

Kritis konstitusional, begitulah sikap yang ditunjukkan oleh kedua tokoh Islam tersebut. Karena itu, jangan heran jika Pak Amien mengkritik kedekatan Prabowo dengan Mayor Teddy, serta direkrutnya orang-orang Jokowi ke dalam pemerintahan seperti Luhut Pandjaitan dan Listyo Sigit.

Amien Rais juga menyoroti sikap Prabowo yang dinilai kurang tegas dalam masalah Israel-Palestina.

Sementara itu, Habib Rizieq mengkritik pidato Prabowo yang mempersilakan orang untuk kabur ke Yaman. Ia juga menyayangkan ketidakberanian Prabowo menyalahkan Amerika Serikat dan Israel dalam serangan ke Iran, serta keberadaan lingkaran presiden yang bermasalah.

Jika kita mencermati perbedaan pemerintahan Prabowo dan Jokowi, era Jokowi menjadikan program antiradikalisme sebagai agenda utama pemerintah. Akibatnya, ormas-ormas Islam yang dianggap radikal dibubarkan, serta tokoh dan aktivis Islam yang kritis dipenjarakan.

Banyak pengamat politik Islam menilai bahwa duet ‘Jokowi-Luhut’ telah melakukan deislamisasi dan dehabibisasi. Mengapa disebut duet Jokowi-Luhut? Hal itu karena kebijakan Jokowi banyak dipengaruhi oleh Luhut beserta timnya.

Fadli Zon pernah menyatakan bahwa Jokowi adalah presiden boneka. Sebagai mantan pedagang mebel—meski pernah menjabat wali kota dan gubernur—ia dinilai tidak mempunyai wawasan luas tentang sejarah, ideologi, serta pertarungan pemikiran dan budaya.

Jokowi adalah seorang teknokrat dan bukan seorang ideolog atau pemikir. Di benak Jokowi, fokus utamanya adalah bagaimana ia dikenang sebagai presiden yang hebat dan anak-anaknya sukses, meskipun harus menabrak undang-undang.

Maka tidak mengherankan jika program besarnya seperti IKN, yang menelan anggaran ratusan triliun rupiah, kini mangkrak. Jokowi sangat tergantung pada lingkaran dekatnya dan mudah disetir oleh orang-orang di sekitarnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button