NUIM HIDAYAT

Mengubah Negara (2)

Oleh: Nuim Hidayat*

Setelah menjadi reporter dan redaksi di beberapa media massa, akhirnya saya memutuskan untuk ambil S2 di Universitas Indonesia. Ceritanya waktu itu beberapa wartawan ada yang bawa brosur lowongan S2 di UI, Program Kajian Timur Tengah dan Islam. Setelah saya baca brosur itu, saya tertarik.

Tadinya saya sempat ragu untuk ambil master di UI. Karena nilai S1 saya di IPB hanya dua koma sekian. Selain itu kemampuan bahasa Inggris saya juga kurang bagus. Tapi bismillah saya coba daftar.

Alhamdulillah setelah daftar akhirnya diterima. Ketika mengambil master di UI ini saya tidak tahu duit untuk membayar SPP dari mana. Saya percaya diri saja.

Baca juga: Mengubah Negara (1)

Uang SPP untuk mengambil master itu akhirnya saya dapat dari berbagai kalangan. Ada anggota DPR, tokoh kenalan lama, dan instansi pemerintah. Meski saya pernah menunggak SPP sekitar tiga semester, tapi akhirnya saya dapat rezeki untuk membayarnya.

Ketika kuliah master di UI itulah pikiran saya terbuka. Timur Tengah ternyata tidak seperti saya bayangkan sebelumnya. Negara-negara di Timteng kebanyakan sudah terkena virus sekulerisme yang hebat. Tidak beda kondisinya dengan Indonesia.

Bila sewaktu kuliah S1 di IPB saya banyak belajar pemikiran Hizbut Tahrir, maka di S2 ini saya banyak belajar pemikiran Ikhwanul Muslimin. Buku-buku Hasan Al Bana, Sayid Qutb dan beberapa tokoh Ikhwan lain saya baca. Saya merasa ada pencerahan. Dalam kuliah itu saya sempat membuat makalah tentang perkembangan awal Ikhwanul Muslimin.

Pada waktu saya kuliah, banyak dosen yang cukup terkenal ngajar di sana. Ada Riza Sihbudi, Hamdan Basyar, Alwi Shihab, Lutfi Zuhdi, Bachtiar Efendi dan beberapa dosen tamu dari Barat. Alwi Shihab malah kreatif mendatangkan beberapa dubes asing di kelas untuk ceramah.

Dengan Alwi Shibab, saya pernah punya pengalaman yang menarik. Yaitu ketika dia menjelek-jelekkan Taliban yang tidak punya ‘visi peradaban’ yang menghancurkan patung-patung di Afghanistan. Waktu itu saya bantah bahwa penghancuran patung itu dilakukan karena lembaga-lembaga bantuan asing lebih memperhatikan patung daripada rakyat Afghanistan yang kelaparan. Alwi marah pada saya karena argumen saya itu.

Saya masuk UI tahun 2001. Saat itu lagi ramai-ramainya perburuan teroris oleh Amerika baik di Indonesia maupun luar negeri (Tragedi WTC terjadi 2001). Alhamdulillah saya mengikuti berita-berita itu dan saya banyak menulis tentang masalah itu. Beberapa tulisan saya dimuat Sabili, Hidayatullah, Gatra dan Republika.

Salah satu tulisan saya di rubrik opini Republika, yaitu Islam Militan dan Teroris, menarik perhatian mantan Kepala BIN (alm) Zain Maulani. Almarhum Fauzan Anshari kawan baik Zain Maulani, menghubungi saya. Ia menyatakan bahwa Zain tertarik dengan tulisan saya. Ia ingin ketemu dengan saya. Entah mengapa saat itu saya malas bertemu, karena pagi itu saya lagi ngajar di STID Tambun Bekasi dan saya merasa tempatnya jauh di RM Handayani Jakarta.

Saya menyesal sampai sekarang kenapa saya nggak menemui Zain Maulani. Karena setelah batalnya pertemuan itu, sekitar beberapa bulan kemudian Zain Maulani wafat menghadap Allah SWT.

Zain Maulani, mantan Kepala BIN di zaman Presiden Habibie ini dikenal sebagai jenderal yang berotak cemerlang dan mempunyai pemahaman Islam yang bagus. Banyak buku atau tulisan yang ditulisnya tentang Islam dan Keindonesiaan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button