Mengubah Negara (2)
Karena waktu itu masalah teroris mengemuka, maka akhirnya saya menulis tesis tentang Sayid Qutb. Kenapa Sayid Qutb? Ya karena Sayid Qutb banyak dianggap sebagai guru para teroris dan perintis terorisme (The Founder of Terrorism). Lebih lanjut tentang Sayid Qutb ini bisa dibaca tulisan saya “Membidik Sayid Qutb”.
Setelah lulus dari UI tahun 2004, saya ditawari untuk menjadi karyawan penerbit nasional Gema Insani Press. Kebetulan waktu itu GIP sedang mencari beberapa karyawan untuk mengembangkan penerbitannya.
Karena waktu itu saya hanya menjadi penulis freelance, akhirnya tawaran itu saya terima.
Ketika bekerja di GIP ini, saya merasa inilah dunia saya. Saya bisa bertemu banyak orang dan juga banyak buku. Di samping itu saya bisa menerapkan ilmu manajemen yang saya sukai.
Pertama kali masuk saya diangkat menjadi Kepala Seksi Penerbitan GIP. Kemudian beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Bagian GIP.
Saya senang sekali bekerjaa di situ. Kenapa? Karena sejak mahasiswa saya ingin bekerja di perbukuan. Sekitar tahun 1990, ketika kuliah di IPB, saya ingin banget menikah. Keinginan itu datang setelah beberapa malam shalat tahajud. Mungkin keinginan itu datang karena ketika kuliah saya kadang-kadang juga melihat bioskop.
Tapi ketika keinginan itu saya sampaikan ke saudara saya, ia tidak setuju dan marah kepada saya. Waktu itu saya sampaikan bahwa kalau saya menikah, saya akan jualan buku. Karena keinginan saya tidak disetujui, saya sempat stres beberapa hari. Saya menikah akhirnya tahun 1997.
Di GIP saya seperti mendapat kenyamanan yang luar biasa. Gaji tetap tiap bulan, kehausan buku atau intelektual terpenuhi dan bisa berkumpul dan ngobrol dengan banyak orang di situ. Seandainya tidak ada beberapa orang yang mendesak terus menerus saya untuk keluar dari GIP, saya mungkin sampai sekarang di sana. Tapi takdir Allah berkata lain, saya di GIP hanya empat tahun (2005-2008). Padahal kalau saya tetap di sana, mungkin saya sudah jadi direktur.
Itulah hidup. Kadang kehidupan berjalan tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Saya sempat stres ketika keluar dari GIP itu. Bahkan dokter memberikan beberapa obat penenang karena stres saya itu. Tapi alhamdulillah berkat pertolongan Allah, akhirnya sembuh stres saya itu.
Stres saya itu sembuh justru setelah saya menolak minum obat penenang dari dokter itu. Kenapa? Karena kebetulan ketika saya berkunjung ke toko buku Gramedia membaca buku tentang tubuh yang mengobati dirinya sendiri. Setelah baca buku itu, akhirnya saya bertekad menghentikan obat itu. Saya baru tahu kemudian obat itu ternyata untuk menghentikan atau memperlambat kerja beberapa syaraf di otak.
Kenapa obat itu saya hentikan? Karena saya merasa otak saya kurang normal. Saya tidak bisa berpikir leluasa. Seperti ada sesuatu yang menahan di otak saya. Alhamdulillah akhirnya Allah memberikan keberanian kepada saya untuk menghentikan obat itu. Dokter dan saudara saya sempat marah ketika saya menghentikan obat itu. Wallahu alimun hakim. (Bersambung). []
*Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.





