SYARIAH

Menjaga Amanah Tubuh, Menakar Mudarat Merokok Perspektif Syariat

Tidak Semua Pemanfaatan Benda Mubah Otomatis Hukum Perbuatannya Mubah

Status suatu benda yang pada hukum asalnya bernilai mubah tidak serta-merta menjadikan seluruh aktivitas pemanfaatannya otomatis berstatus mubah pula. Hukum syariat senantiasa bersifat dinamis dengan melihat cara penggunaan, konteks, serta dampak akhir yang dihasilkan dari tindakan tersebut.

Ada kalanya pemanfaatan benda mubah bernilai aman karena tidak membawa mudarat sehingga status hukumnya tetap diakui sebagai mubah. Namun, ada pula pemanfaatan benda mubah yang justru diharamkan karena terbukti menimbulkan kerusakan pada fisik, psikis, maupun kelestarian lingkungan.

Oleh karena itu, fokus kajian fikih kontemporer tidak boleh hanya terpaku pada wujud fisik dari benda yang dikonsumsi tersebut. Umat Islam dituntut untuk jeli dalam menakar fakta pemanfaatan serta dampak kumulatif yang ditimbulkannya terhadap kemaslahatan publik.

Apakah Rokok Sama dengan Nasi atau Gula?

Anggapan sebagian orang bahwa semua benda mubah—termasuk nasi dan gula—jika dikonsumsi secara berlebihan dapat membawa kerusakan adalah hal yang benar. Namun, karakteristik dasar serta dampak biologis dari asap rokok sepenuhnya berbeda dengan kedua bahan makanan pokok tersebut.

Nasi dan gula merupakan zat gizi karbohidrat yang memang sangat dibutuhkan oleh sistem metabolisme tubuh manusia sebagai sumber energi. Sementara itu, asap rokok murni bukanlah kebutuhan biologis manusia dan tidak memiliki fungsi nutrisi atau vitamin sedikit pun.

Bahkan sejak paparan pertama terhirup, sistem pertahanan tubuh manusia langsung memperlakukan asap rokok sebagai zat asing berbahaya yang harus dinetralisasi. Oleh sebab itu, menyamakan kedudukan nasi atau gula dengan asap rokok merupakan analogi yang keliru dan tidak sepenuhnya tepat.

Dimensi Sosial dan Ekonomi

Dipertahankannya eksistensi industri rokok di era modern ini mencerminkan adanya pembiaran sistemik terhadap penggunaan nikotin di masyarakat. Zat adiktif ini sering kali dijadikan pelarian murah demi mendapat kenyamanan psikologis jangka pendek di tengah himpitan tekanan sosial.

Dalam kacamata kritis, fenomena rokok sengaja dipelihara sebagai penyedia kesenangan instan (dopamine hits) agar masyarakat merasa terhibur dari kesulitan hidup. Akibat kebiasaan candu ini, tingkat kepekaan dan perhatian umat terhadap persoalan sosial yang lebih mendasar dan sistemik berpotensi terkikis.

Padahal, berbagai kajian ilmiah lintas negara telah menunjukkan secara empiris bahwa konsumsi rokok selalu mendatangkan kerugian yang masif. Kerusakan nyata ini tidak hanya menghancurkan kesehatan masa depan individu perokok, tetapi juga merusak kelestarian lingkungan hidup.

Dalam perspektif ekonomi kapitalistik, semakin kuat suatu zat memberikan kenikmatan sesaat, maka akan semakin besar pula potensi permintaannya di pasar. Pihak produsen memanfaatkan celah ketergantungan psikologis ini untuk meraup keuntungan finansial yang melimpah dan berkelanjutan.

Sifat nikotin yang sangat adiktif berhasil mengunci konsumen rokok agar menjadi basis pasar yang sangat luas, loyal, dan terus mengonsumsi berulang kali. Oleh karena alasan finansial inilah, industri rokok menjelma menjadi salah satu sektor bisnis yang menghasilkan perputaran uang sangat besar.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button