Meraih Syafaat Al-Qur’an
Harus Ikhlas dan Konsisten
Apapun amal ibadahnya termasuk membaca Al-Qur’an itu harus ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah Swt.
Firman Allah Swt,
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (QS.Al-Bayyinah: 5)
Jangan sampai baca Al-Qur’an riya’ dan sum’ah. Riya’ itu bahasa arab yang berasal dari kata ‘ra’a’ artinya melihat. Jadi kalau kita baca Al-Qur’an diperlihatkan orang lain karena mengharap pujian ini jelas tidak ikhlas. Karena tak ikhlas tentu tak dapat syafaat Al-Qur’an.
Baca Al-Qur’an dengan ‘sum’ah’ juga tanda tak ikhlas karena Allah Ta’ala. Sum’ah itu bahasa arab dari kata ‘sami’a’ artinya mendengar. Jadi kalau kita membaca Al-Qur’an diperdengarkan orang lain pakai pengeras suara dengan niat agar mendapat pujian apresiasi, berarti baca Al-Qur’annya tidak ikhlas karena Allah Ta’ala.
Alih-alih akan mendapat syafaat dari Al-Qur’an yang dibacanya tapi justru mendapat laknat, na’udzubillah mindzalik
Selain harus niat ikhlas karena Allah, juga harus mentadabburinya makna yang terkandung ayat yang dibacanya, dan konsisten mengamalkan apa yang dibacanya. Berikut ada ‘tahdzir’ atau wanti-wanti yang disampaikan ulama salaf. Ini tahdzirnya;
رب قارئ للقرآن والقرآن يلعنه
“Banyak orang yang membaca Al-Qur’an tetapi justru Al-Qur’an melaknatinya, “
Tahdzir tersebut dari ulama salaf yaitu dari Maimun bin Mahran (Fatawa Lajnah Daimah 213/3)
Hampir senada juga Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menukil ucapan Anas bin Malik:
رب تال للقرآن والقرآن يلعنه
“Banyak orang yang membaca Al-Qur’an tapi justru Al-Qur’an melaknatinya” (Ihya Ulumuddin/274/1).
Mereka wanti-wanti kepada para pembaca Al-Qur’an agar mempedomani dan mentadabburinya serta mengamalkan isi kandungan kitab suci Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca tapi sebagai pedoman hidup, petunjuk bagi manusia, penjelas petunjuk, dan pembeda antara yang haq dan batil, antara yang baik dan yang buruk.
Kalau tidak konsisten, Al-Qur’an justru akan melaknati orang yang membacanya, karena tidak melaksanakan perintah-perintahnya dan melanggar hal-hal yang dilarangnya. Membaca ayat keharaman riba atau ayat tentang kezaliman tapi dia sendiri berbuat riba atau zalim. Maka profil qari’ Al-Qur’an semacam ini, alih-alih akan mendapat syafaat dari Al-Qur’an tapi justru mendapat laknat dari Al-Qur’an itu sendiri. Karena tidak konsisten mengamalkan sesuai yang dibacanya.
Yuk kita raih syafaat Al-Qur’an dengan mengintensipkan membaca, memahami makna Al-Qur’an dan mengamalkannya dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala.Terkhusus di bulan Ramadhan ini. Dan insyaallah sebentar lagi masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan waktu turunnya ‘lailatur qadar’. Dimana ibadah di malam ‘lailatul qadar’ ini keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Masyaallah. Semoga kita dapat meraih syafaat Al-Qur’an. Aamiin.
Abd. Mukti, Pemerhati Kehidupan Beragama.






