NUIM HIDAYAT

Merenungi Al-Qur’an (2)

Di pagi yang cerah ini saya mencoba merenungkan surat al Baqarah ayat ke-3. Allah SWT berfirman, ”(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Mengapa di ayat awal Al-Qur’an ini, tanda orang bertakwa yang pertama adalah mereka yang beriman kepada yang ghaib. Di abad materialisme ini, orang cenderung percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka tidak percaya yang di luar itu. Sehingga kaum komunis, anti Tuhan di dunia tumbuh sekitar 11% dari sekitar hampir delapan miliar penduduk di bumi.

Kaum materialis atau komunis juga percaya bahwa kekuatan adalah pada apa yang terlihat, yaitu pada senjata, pada militer. Maka jangan heran mereka membangun kekuatan militer yang sangat digdaya. Lihatlah bagaimana Amerika, Israel, China dan Rusia memperkuat kekuatan militernya. Bahkan menciptakan kekuatan yang bisa menghancurkan dunia, termasuk menghancurkan diri mereka sendiri. Kekuatan nuklir.

Bagaimana dengan Islam? Islam dibangun pertama dengan kekuatan ghaib. Rasulullah Saw menerima wahyu dari gua Hira’ dan kemudian membangun masyarakatnya. Wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang mengguncang tubuh Rasulullah.

Apa isi wahyu pertama itu? “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (sesuatu yang menggantung). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Dia yang mengajarkan dengan qalam (pena). Mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”_ (QS al Alaq 1-5) ,

Itulah kekuatan Islam. Islam tidak dibangun dengan kekuatan materi. Islam tidak dibangun dengan kekuatan senjata. Islam dibangun dengan kekuatan wahyu (Al-Qur’an).

Islam dibangun dari Yang Maha Ghaib, yang tidak terlihat oleh mata. Yang mata tidak mampu memandangnya. Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan (Allah), ia pingsan (dan gunung di depannya hancur). Allah tidak bisa dilihat oleh mata, karena mata kita punya kelemahan. Mata hanya bisa melihat kalau ada materi lainnya bersamanya (cahaya). Mata kita juga kalah dengan mata burung elang yang jauh lebih tajam. Atau mata hewan-hewan lain yang dapat melihat tanpa cahaya.

Allah tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Allah bisa dilihat dengan mata hati. Allah bisa kita rasakan keberadaannya bila kita mengalami musibah yang luar biasa, dimana manusia di dunia ini tidak bisa menolong kita. Mereka yang pernah mengalami kecelakaan pesawat atau mengalami kecelakaan di kapal, maka secara otomatis mereka akan menyebut O My God, Ya Allah. Begitu juga bila seseorang mengalami permasalahan hidup yang luar biasa, yang tidak bisa seorang pun menolongnya. Maka ia akan kembali kepada Tuhan (Allah).

Bila kaum komunis atau materialis menganggap bahwa materi sangat penting, kaum Muslim menanggap bahwa non materi jauh lebih penting. Seorang ulama ternama, Taqiyuddin an Nabhani membagi kekuatan manusia menjadi tiga. Kekuatan materi, kekuatan semangat dan kekuatan ruhiyah (kekuatan yang diilhami dari Yang Maha Perkasa).

Kekuatan materi adalah kekuatan yang paling lemah. Lihatlah Amerika yang mengandalkan kekuatan senjata, kalah dengan kekuatan semangat dalam perang Vietnam. Amerika juga kalah dalam perang di Irak dan Afghanistan. Rusia bertahun-tahun mengandalkan kekuatan senjatanya untuk menundukkan kaum Muslimin di Afghanistan, tapi akhirnya ia keok dan melarikan diri. Begitu juga Amerika.

Bila kekuatan ruhiyah muncul, maka ia sanggup untuk tidak makan berhari-hari. Pejuang Afghanistan mampu berjalan ratusan kilometer ketika melawan Rusia dan Amerika. Sebagaimana panglima Jendral Sudirman dengan anak buahnya sanggup berjalan ratusan kilometer melawan penjajah Belanda yang rakus. Para pejuang Islam ini meneladani Rasulullah yang berjalan ratusan kilometer untuk menyelamatkan risalah Islam. Kekuatan ruhiyah yang menyebabkan fisik menjadi hebat ini tidak dipunyai oleh tentara Amerika, Rusia dan Belanda.

Keyakinan kepada yang ghaib ini, membawa kaum Muslim menjadi umat terbaik (muttaqin). Orang yang bertakwa adalah orang yang membawa perbaikan bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan dunia. Sifat Allah Yang Rahman dan Rahim, sifat Allah Yang Maha Pemberi, Maha Mengetahui dan Maha Perkasa, membuatnya selalu optimis dalam hidup. Permasalahan yang dihadapinya, permasalahan yang ada di keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan dunia ia adukan kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Perkasa akan memberikan solusi terbaik.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button