Muslim India Kehilangan Ruang Publik untuk Salat Id
Masjid-masjid meminta jamaah salat bergiliran, sementara pihak berwenang mengeluarkan ancaman terhadap perkumpulan umat.
Bagi Muslim Uttar Pradesh, ancaman “cara lain” dari Adityanath bukan hal baru.
“Tahun lalu orang-orang diproses hukum karena salat di ruang terbuka. Di beberapa tempat, rumah dibongkar dan bahkan ada laporan pencabutan verifikasi SIM dan paspor. Setelah melihat semua itu, orang-orang tentu takut,” kata seorang pria Muslim di Meerut kepada Al Jazeera dengan syarat anonim karena takut pembalasan dari pihak berwenang.
Arif Malik, pedagang di distrik Aligarh sekitar 130 km dari New Delhi, mengatakan bahwa pada Idul Adha tahun lalu, Muslim di lingkungannya “hanya salat beberapa menit di lapangan terbuka, tetapi polisi kemudian mengejar jamaah”.
“Untuk Id kali ini, keluarga-keluarga menyuruh orang menghindari kerumunan,” katanya.
‘Dulu pagi Id terasa penuh kegembiraan’
Muslim di Uttar Pradesh mengatakan pembatasan salat Id menciptakan suasana di mana bahkan perkumpulan keagamaan rutin semakin diperlakukan sebagai masalah keamanan.
Di sejumlah kota, komite masjid diam-diam mengubah pengaturan Id. Ada yang mengurangi jumlah jamaah. Ada pula yang meminta jamaah datang dalam kelompok kecil atau segera bubar setelah salat. Relawan komunitas ditugaskan memastikan jamaah tidak meluber ke jalan, bahkan hanya sebentar.
“Bagi banyak Muslim, kekhawatiran sekarang bukan lagi sekadar di mana salat Id akan dilaksanakan, tetapi apakah berkumpul secara publik sebagai komunitas agama kini dipandang dengan curiga,” kata Mohammad Arif, 42 tahun, anggota komite masjid di Meerut yang telah mengatur salat Id hampir dua dekade.
Arif mengatakan komite-komite masjid di berbagai kota Uttar Pradesh mengadakan pertemuan mengenai pengendalian massa dan cara menghindari konfrontasi dengan pihak berwenang.
“Orang-orang berpikir sangat hati-hati tentang visibilitas, pergerakan, bahkan di mana meletakkan sajadah,” katanya.
“Kami takut bahkan melakukan kesalahan kecil,” ujar Arshad, pedagang berusia 33 tahun di Meerut yang hanya menyebut nama depannya.
“Dulu pagi Id terasa penuh kegembiraan. Sekarang ada ketegangan sejak malam sebelumnya. Orang-orang terus mengecek apakah polisi akan datang atau apakah seseorang akan merekam video dan mengunggahnya ke internet.”
Bagi banyak Muslim, dampak psikologis dari pembatasan dan penargetan ini melampaui lokasi salat.
“Ada ketakutan akan dipermalukan,” kata Numan Khan, mahasiswa Universitas Muslim Aligarh, institusi akademik minoritas terbesar di India.
“Bahkan jika tidak terjadi kekerasan fisik, orang takut direkam, dijadikan sasaran di internet, atau dituduh sesuatu. Orang tua menyuruh anak muda menghindari berdiri di luar masjid karena mereka tidak ingin masalah.”
Ketakutan itu mengubah perilaku komunitas selama hari raya secara halus namun nyata.
Komite masjid mulai berkoordinasi langsung dengan polisi sebelum Id untuk menghindari bentrokan. Para relawan diminta mengawasi pintu masuk, mencegah kerumunan, dan membubarkan jamaah dengan cepat setelah salat selesai.
Seorang imam di distrik Saharanpur, Uttar Pradesh barat, menyebut persiapan itu sebagai “pengendalian kerusakan”.
“Kami menghabiskan lebih banyak waktu membahas pembatasan daripada membahas Id itu sendiri,” katanya. “Menghindari kontroversi kini menjadi prioritas kami.”
Imam lain di Lucknow mengatakan salat berjamaah secara tradisional memang meluber ke jalan sekitar selama beberapa menit karena kekurangan ruang, bukan sebagai bentuk pembangkangan.
“Salat hanya berlangsung beberapa menit. Jalan langsung dibuka kembali sesudahnya,” katanya kepada Al Jazeera. “Dulu ini tidak pernah dianggap masalah besar. Sekarang digambarkan seolah Muslim ingin menguasai ruang publik.”
Kecemasan itu tidak hanya terjadi di Uttar Pradesh. Perintah serupa juga dikeluarkan di negara bagian lain yang dipimpin BJP, termasuk Benggala Barat dan Delhi.






