Niat yang Tak Terbang
Dua Kursi di Saf Belakang
Usai Maghrib, aku menahannya di teras masjid.
“Iya, Pak Agus. Sudah masuk empat bulan,” jawabnya pelan.
Suaranya tak getir, hanya datar, seperti orang yang sudah lama menahan napas.
“Maaf, Pak Rifki. Apa enggak ada upaya cari kerja di tempat lain?” tanyaku, berusaha tidak terdengar seperti interogasi. Dia menarik napas.
“Saya fokus menyelesaikan sengketa lewat jalur hukum dulu, Pak.”
Kronologinya singkat, tapi padat. Dia diminta mengundurkan diri karena dianggap lalai mempertanggungjawabkan kesalahan krusial. Perusahaan memberinya pilihan: akui salah, minta maaf, dan tetap bekerja. Atau keluar dengan surat pemberhentian tidak hormat.
Pak Rifki memilih yang kedua. Baginya, itu bukan kelalaian, melainkan celah aturan yang tak pernah dituangkan secara resmi.
Karena status “tidak hormat”, pesangon melayang. Tabungan perlahan menipis.
“Kalau saya lamar lagi, posisinya dilematis,” katanya, matanya menatap lantai teras yang sudah aus.
“Saya harus tunjukkan surat pemecatan itu. Perusahaan baru pasti konfirmasi ke sana. Usia saya sudah mendekati lima puluh, Pak Agus. Sulit.”
Dia tidak mengeluh. Hanya menjelaskan fakta dengan ketenangan yang justru lebih menusuk daripada ratapan. Aku mengerti.
Dalam dunia kerja yang kaku, stempel “dipecat tidak hormat” adalah vonis seumur hidup yang sulit dihapus, apalagi di usia yang tak lagi dianggap produktif oleh pasar.
Perdebatan Sunyi di Meja Makan
Malam itu, usai makan, aku mengajak istriku ke kamar.
“Ma, Papa mau ngomong bentar.” Suaraku lebih berat dari biasanya.
Dia meletakkan gelas, mengikutiku, dan duduk di tepi ranjang.
“Bagaimana kalau kita tidak usah berangkat umrah dulu? Dananya kita sedekahkan ke Pak Rifki.”
Aku menceritakan semuanya. Dia terdiam. Jeda itu panjang, diisi oleh desis AC dan suara jangkrik di luar jendela.
“Tapi, Pa. Uangnya kan cukup besar. Banyak yang sudah tahu kita mau umrah bulan depan.”
“Urusan itu bisa diralat, Ma. Lagipula, kita belum setor.” Aku mencoba mencari pijakan.
“Ada hadis, Pa. Shalat Syuruq di masjid usai Subuh, tanpa keluar, diganjar pahala haji dan umrah.”
Istriku menatapku.
“Iya, Pa. Tapi shalat di Masjidil Haram dan Nabawi itu ribuan kali lipat. Kamu tahu itu.”
“Tapi menolong seseorang dalam kesusahan juga pahalanya besar, Ma.” “
Pak Rifkinya minta bantuan? Tidak, kan?”
“Karakternya tidak akan pernah minta. Aku paham lelaki seperti itu.”
Dia menarik napas.
“Jadi… kapan kita umrah lagi?”
“Kita nabung lagi, Ma. Nanti setelah cukup, kita hubungi travelnya.”
“Ya, sudah. Mana yang lebih baik menurut Papa.”






