RESONANSI

Niat yang Tak Terbang

Transfer yang Tak Berbekas

Keputusan itu tidak disertai gemerlap pengorbanan. Hanya keheningan yang disepakati bersama. Aku memintanya tidak bercerita pada siapapun. Biar Allah yang mencatat.

Aku juga memutuskan untuk tidak menyerahkan uang itu secara langsung. Pak Rifki pasti akan menolak, dengan sopan tapi tegas, seperti menolak bantuan yang menggerus harga diri.

Aku memilih transfer anonim. Tanpa nama, tanpa pesan, hanya angka yang berpindah ke rekeningnya, seperti hujan yang turun tanpa meminta izin pada tanah yang kering.

Beberapa hari kemudian, saat kami duduk di teras, istriku bertanya pelan, “Apa dia sudah dapat?”

Aku mengangguk. “Mudah-mudahan cukup untuk biaya hukum dan kebutuhan anak-anak.”

Kami tidak pernah membicarakannya lagi. Tidak ada pengakuan, tidak ada drama. Hanya keyakinan bahwa niat yang ditangguhkan bukan berarti hilang, melainkan dialihkan ke jalan yang lebih sunyi.

Umrah bisa diundur. Tapi martabat seseorang yang sedang tergerus, tidak bisa menunggu.

Kadang, ibadah terbesar bukan yang membawa kita terbang ke tanah suci, melainkan yang membuat kita tetap berpijak di tanah yang sama, dengan tangan yang terbuka, dan hati yang memilih diam.[]

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button