OPINI

Pemilu ke-15 Malaysia dan Anies Baswedan

Pertama tidak kuat lagi propaganda politik identity.

Jika pada pemilu sebelumnya propaganda politik identity sangat kuat. Sehingga orang yang berlainan partai dengan mudahnya dicop sebagai kafir, munafik, fasik, liberal dan sebagainya. Maka pada pemilu kali ini menjadi berkurang.

Ini disebabkan oleh karena para pengikut partai yang kuat memainkan isu propaganda selama ini telah mati kutu bagai meludah ke langit yang kena muka sendiri.

Jika selama ini mereka serang partai lawan yang bekerjasama dengan partai kafir, anti Islam Melayu, maka di pihak mereka sekarang juga ada partai kafir anti Islam Melayu. Bahkan jumlahnya lebih banyak lagi dari di pihak lawan.

Jika diserang melalui isu tidak pro Melayu Islam, maka pihak lawan akan mengeluarkan data-data tentang tanah rizab Melayu yang hilang semasa pemerintahan mereka

Kedua, pihak oposisi tidak takut lagi dengan Intelijen

Jika selama ini setiap ceramah, gerakan dan aktifitas partai oposisi dibayangi dengan intipan intelijen yang mengabdi untuk kepentingan penguasa dan pengusaha bukan untuk kemaslahatan negara, maka saat ini tiada lagi.

Ini karena tiada partai dominan yang mampu menyalahgunakan fungsi dan manfaat Polisi, Tentera dan berbagai institusi negara lainnya untuk kepentingan kuasa partai mereka.

Seperti diketahui setelah pemilu ke-14 di Malaysia tiada lagi partai yang mendominasi mayoritas tunggal. Untuk berkuasa mereka perlu bekerjasama dengan partai lain.

Maka dengan sendirinya alat negara tidak bisa digunakan lagi untuk sebagai alat kepentingan penguasa pemerintah yang ada karena rakyatlah yang membayar gaji mereka bukan dari duit kantong penguasa.

Ketiga, masing-masing partai menjual prestasi dan jasa kepada rakyat

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button