Pemimpin Baru Hamas Harus Jembatani Gerakan yang Terpecah Terkait Iran
Setelah kudeta di Mesir dan keberhasilan kontra-revolusi dalam menumpas gerakan Arab Spring, Hamas mendapati dirinya berada di bawah tekanan dari kedua belah pihak. Pemerintah negara-negara Arab yang menentang pemberontakan menghukum gerakan ini karena dukungannya yang terang-terangan.
Sementara itu, Iran turut menghukum Hamas karena menolak berdiri di samping pemerintah Suriah. Pada saat Haniyeh akhirnya menggantikan Meshaal sebagai kepala biro politik, kesulitan keuangan gerakan ini menjadi semakin parah.
Cabang diaspora yang saat itu dipimpin oleh Meshaal kehilangan sebagian besar dana yang dibutuhkan untuk menopang struktur organisasinya yang luas. Iran kian mendikte bagian Hamas mana yang berhak menerima dukungan keuangannya, serta menegaskan bahwa dana tidak boleh diberikan kepada tim Meshaal.
Secara praktis, tindakan Teheran ini memperkuat faksi pro-Iran di dalam Hamas. Di sisi lain, kebijakan tersebut memperlemah faksi oposisi yang dipimpin oleh Meshaal.
Baik naiknya Sinwar ke puncak kepemimpinan maupun kepemimpinan kolektif yang dibentuk setelah pembunuhannya tidak mampu menyelesaikan perselisihan mendasar ini.
Kemenangan Tanpa Mandat Mutlak
Dengan latar belakang tersebut, kemenangan tipis al-Hayya tidak terelakkan akan ditafsirkan oleh sebagian kalangan sebagai kemenangan bagi kubu pro-Iran. Hingga beberapa tahun lalu, faksi tersebut hanya mewakili minoritas kecil di dalam gerakan.
Faksi ini semakin kuat karena adanya persepsi bahwa Iran adalah satu-satunya negara di kawasan yang bersedia mendukung Hamas. Selain itu, timbul keyakinan di antara para pendukungnya bahwa Iran keluar dari perang AS saat ini dengan kondisi yang lebih kuat dan tangguh.
Meskipun demikian, hasil pemungutan suara yang sangat tipis menunjukkan bahwa Hamas masih terbelah secara mendalam. Al-Hayya mungkin telah memenangkan kepemimpinan, tetapi margin satu suara tidak memberikan mandat mutlak bagi satu faksi untuk meminggirkan faksi lainnya.
Bagi mereka yang menilai kepemimpinan utamanya dari kharisma, Meshaal tetap menjadi sosok yang lebih menonjol. Namun, secara historis Hamas tidak terlalu bergantung pada karisma individu melainkan pada kejelasan visi dan persatuan di dalam jajarannya.
Tantangan Utama Al-Hayya
Oleh karena itu, tantangan terbesar Al-Hayya bukan sekadar memimpin Hamas melewati masa-masa regional yang sangat sulit. Tantangan utamanya adalah bekerja sama dengan para rekannya untuk memperbaiki keretakan internal yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade.
Ia harus menyatukan kembali faksi-faksi yang bersaing dan menjaga kejelasan serta independensi visi politik gerakan. Keberhasilannya akan menentukan apakah pemilihan ini menjadi awal dari kohesi yang terbarukan, atau justru menjadi babak baru dari penguatan satu kubu dengan mengorbankan gerakan secara keseluruhan.[]
sumber: Aljazeera.com






