#Bebaskan PalestinaNUIM HIDAYAT

Perbedaan Solusi untuk Tragedi Bosnia dan Gaza

“Bosnia, maafkan aku.”
“Kami datang terlambat.”
“Dunia bersih tangan.”
(Puisi Taufik Ismail)

Sekitar tahun 1993, setelah tentara Serbia menyerbu Bosnia dan membantai ribuan Muslim Bosnia, di Institut Pertanian Bogor (IPB) diadakan acara tentang Tragedi Bosnia. Saat itu aku mengikutinya. Aku begitu terharu mendengar puisi Taufik Ismail tentang Bosnia dibacakan.

Tragedi Bosnia mengguncangkan akal sehat. Bosnia, yang penduduknya mayoritas Muslim, tidak bersalah apa-apa tiba-tiba diserbu tentara Serbia (April 1992). Tragedi itu dianggap sejarah paling kelam di Eropa setelah Perang Dunia kedua. Jumlah Muslim Bosnia yang dibunuh pasukan Serbia lebih dari 128 ribu jiwa dan dua juta orang mengungsi dari rumahnya.

Pasukan Serbia saat itu melakukan pengusiran sistematis terhadap warga Muslim Bosnia. Kota-kota seperti: Prijedor, Foča, Zvornik dan Višegrad menjadi lokasi pembantaian massal, pemerkosaan sistematis, dan kamp tahanan. Ribuan bangunan dan masjid dihancurkan dan kamp konsentrasi seperti Omarska dan Trnopolje terungkap ke media internasional.

Puncak kekejaman terjadi di Srebrenica pada Juli 1995. Saat itu Panglima Tentara Serbia Ratko Mladić mengumpulkan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia dan dibunuh semua. Ia juga memerintah pemboman kepada pasar, rumah sakit, sekolah dan masjid-masjid. Kalimat yang terkenal diucapkan Mladić di Srebrenica: “Saatnya membalas dendam terhadap orang Turki.” Turki adalah sebutan rasis untuk Muslim Bosnia.

Selain Ratko Mladic, ada juga atasannya yaitu Slobodan Milošević, Ia adalah Presiden Serbia (1989-1997) yang merupakan arsitek politik dan negara dibalik pembantaian (genosida) di Bosnia. Ia menjalankan proyek “Greater Serbia” dengan cara pembersihan etnis Muslim Bosnia.

Selain itu ada juga toko-tokoh Serbia yang berperan aktif dalam pembersihan etnis Muslim Bosnia ini. Seperti: Radovan Karadžić, Radislav Krstić, Momčilo Krajišnik dan Biljana Plavšić.

Dari tahun 1992-1995 dunia saat itu hanya menjadi penonton pembantaian Muslim Bosnia. PBB, Amerika dan NATO -lembaga yang mengatur keamanan dunia- hanya berdiam diri saat itu, seolah-olah membiarkan pembantaian dan penderitaan itu terjadi. Bahkan PBB dikecam saat itu karena mengembargo senjata yang mau masuk ke wilayah Bosnia.

Dunia Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam marah dan protes keras. Demonstrasi besar-besaran terjadi di negeri-negeri Islam. Tragedi Bosnia yang lebih dari tiga tahun itu terus didiamkan negara-negara Barat, hingga akhirnya meledak dengan adanya pembantaian di Srebrenica (Juli 1995). Yaitu ketika 8000 Muslim Bosnia dibantai di wilayah zona aman PBB. Pembantaian itu disaksikan oleh Pasukan Belanda dan PBB.

Kemarahan yang memuncak dari dunia Islam dan ‘media Barat’ menjadikan NATO kemudian bergerak. Pada 30 Agustus–20 September 1995, NATO meluncurkan operasi militer besar yang dinamakan Operation Deliberate Force. Serangan udara besar itu menargetkan 338 sasaran militer dan logistik pasukan Serbia di Bosnia. Lebih dari 50 pasukan Serbia tewas dan 98 orang luka-luka.

Serbia akhirnya menyerah dan tunduk kepada NATO. Richard Holbrooke, utusan khusus Amerika Serikat untuk Balkan mencanangkan Perjanjian Dayton untuk mengakhiri perang di Bosnia itu. Ia mengundang Presiden Bosnia Alija Izetbegović, Presiden Kroasia Franjo Tudman dan Presiden Serbia Slobodan Milosevic. Perundingan dilakukan di pangkalan militer tertutup di Wright-Patterson Air Force Base, Dayton, Ohio, Amerika Serikat. Perundingan dimulai pada 1 November 1995 dan mencapai kesepakatan pada 21 November 1995. Pada 14 Desember 1995, perjanjian damai ini ditandatangani secara resmi di Paris, Prancis.

Apa Isi Utama Perjanjian Dayton? Pertama, perang dihentikan, gencatan senjata menyeluruh dan semua operasi militer dihentikan.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button