#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Pernyataan Pertama Mojtaba Khamenei

Pernyataan tersebut secara efektif membatalkan ruang gerak diplomasi pemerintah sipil, mengirim sinyal tegas kepada musuh maupun sekutu bahwa garis keras telah memenangkan perdebatan internal. Atau, itu bisa dibaca sebagai upaya ‘tarik ulur’, antara lanjut perang atau diplomasi sebagai sebuah strategi. Bagi AS dan Israel, dua kontradiksi itu berarti tidak ada mitra negosiasi yang kredibel di Tehran selain IRGC yang kini berada di bawah komando langsung Mojtaba.

Ketiga, pernyataan Mojtaba menekankan kedalaman strategis melalui kekuatan koersif, dan menggunakan rudal serta alat asimetris untuk menunjukkan ketahanan.

Hal ini mengonfirmasi prediksi Patrick Clawson dan Farzin Nadimi bahwa Mojtaba akan mengadopsi strategi konsolidasi yang keras di masa penuh tantangan dengan tentu saja mengandalkan IRGC (The Washington Institute, 5/3/2026).

Ancaman penutupan Selat Hormuz dan seruan kepada proksi regional adalah eksekusi dari strategi ini. Dengan latar belakang traumatis kehilangan keluarga dekat dan ‘dikerjain berkali-kali oleh Barat’, termasuk terakhir dalam perundingan nuklir, naluri balas dendamnya bisa jadi tetap kuat. Hal itu sekaligus mengukuhkan ideologi konfrontasi eksistensial antara Iran versus Amerika dan Israel.

Jika balas dendam itu terus berlanjut, maka bisa jadi akan membuka pintu pada opsi-opsi ekstrem lainnya, misalnya mulai dari perluasan serangan rudal ke negara Teluk yang semakin eskalatif, bahkan saat ini ada rencana penyerangan drone hingga ke daratan Amerika, hingga akselerasi program nuklir militer yang semakin membuat khawatir Amerika Serikat dan Israel.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button