NUIM HIDAYAT

Pesantren dan Tradisi Menulis Kita

  1. Menulis sebagai tradisi intelektual untuk menjawab zaman

Dalam sejarah, ulama menulis untuk merespons tantangan sosial—dari perdebatan teologis, pertemuan dengan budaya lokal, hingga penjajahan. Karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani misalnya, bukan sekadar syarah, tetapi dialog dengan masalah pendidikan, akhlak, dan politik di abad 19.

Pesantren selalu menulis untuk menjadi relevan. Ia tidak anti-modernitas, melainkan mengolahnya.

Perkataan Ulama tentang Pentingnya Menulis

Warisan ucapan para ulama semakin mengokohkan kedudukan menulis sebagai pilar peradaban Islam yang penting:

  • Imam Ibn al-Jauzi: “Tulisan ulama lebih berharga daripada darah para syuhada.”
  • Imam al-Maqrizi: “Jika bukan karena tulisan, ilmu akan hilang sebagaimana hilangnya harta.”
  • Imam Sufyan ats-Tsauri: “Tulislah ilmu, karena engkau tidak akan menjadi ahli fikih jika hanya menghafal.”
  • Imam An-Nawawi: menulis hingga ratusan karya meski hidup hanya 44 tahun, menunjukkan bahwa produktivitas bukan soal umur, tetapi keberkahan waktu.

Ucapan-ucapan ini membentuk habitat pesantren: membaca, menyalin, menyusun, lalu menulis ulang sebagai bentuk dialog kreatif dengan warisan para ulama-ulama shalih terdahulu.

Tradisi Menulis dalam Pesantren Modern

Masuk abad ke-20, pesantren mengalami modernisasi. Muncul madrasah, organisasi ulama, dan media massa. Tradisi menulis pun melebar:

  • KH Ahmad Dahlan menulis risalah tentang pembaruan pendidikan.
  • KH Hasyim Asy’ari menulis kitab-kitab akhlak, fiqih, dan kebangsaan.
  • KH Wahid Hasyim menulis gagasan tentang harmonisasi Islam dan modernitas.
  • KH Bisri Musthofa menulis tafsir Al-Ibriz dalam bahasa Jawa yang populer hingga kini.

Ahli Barat pun Mengagungkan Aktivitas Menulis

Menariknya, tradisi menulis juga dijunjung tinggi oleh pemikir Barat. Ini menunjukkan bahwa menulis adalah tradisi universal dalam membangun peradaban.

  • Francis Bacon: “Menulis membuat manusia menjadi cermat.”
  • George Orwell: “Menulis adalah cara bertarung melawan lupa”.
  • Ernest Hemingway: “Tidak ada penulis hebat, hanya ada penulis yang terus menulis.”
  • Walter Ong, ahli komunikasi, menegaskan bahwa peradaban maju karena peralihan dari budaya oral ke budaya literasi.
  • Carl Sagan: “Buku adalah mesin waktu.”

Walhasil, menulis adalah tradisi yang menjadi budaya Islam dari zaman ke zaman. Di abad pertengahan, saat Barat mengalami abad kegelapan, dunia Islam telah dipenuhi dengan ribuan buku-buku yang tersebar di berbagai kota Islam.

Seorang ulama menasihatkan:
“Jika engkau ingin dikenal hari ini, bicaralah.
Jika engkau ingin dikenal selamanya, menulislah.”

Semoga pesantren kembali menjadi mercusuar literasi dan pusat kelahiran karya-karya besar yang membentuk masa depan peradaban Islam. Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button