Polemik Konser Andrea Bocelli: Ada Upaya Adu Domba Elemen Ulama?
Meskipun pada 2025 nilainya cuma 0,055% dari keseluruhan perdagangan luar negeri Indonesia (ekspor dan impor barang). Prabowo tidak berani membatalkannya. Padahal banyak negara memberi sanksi kepada Israel. Ada yang memutuskan hubungan dagang, membekukan hubungan diplomatik, mengurangi ekspor senjata ke Israel dan lain-lain.
Baca: Keseriusan Prabowo dalam Mendukung Palestina Dipertanyakan: Kasus Kelapa Sawit dan Bocelli
***
Yang menjadi pertanyaan siapa yang paling diuntungkan dari munculnya perbedaan pandangan terhadap konser Bocelli ini? Tentu saja penyelenggara konser.
Dari sudut pandang komunikasi publik, situasi ini berpotensi menguntungkan penyelenggara. Sebab, polemik tidak lagi hanya membicarakan rekam jejak Andrea Bocelli dan sikap pemerintah terhadap Palestina, tetapi bergeser menjadi perdebatan antarkelompok ulama.
Penyelenggara juga dapat menampilkan dukungan sebagian tokoh Islam sebagai legitimasi moral bagi konser yang tetap dilaksanakan.
Ada yang menduga bahwa penyelenggara konser sengaja menfasilitasi beberapa kiai itu untuk mendukung Konser Bocelli. Tentu untuk membuktikannya tidak mudah. Karena ‘adu domba‘ antara tokoh Islam itu biasanya dilakukan lewat aksi gerilya (senyap).
Tentu umat Islam Indonesia -khususnya ormas-ormas Islam- lebih mendengar MUI daripada segelintir orang yang mengaku kiyai itu. Sebab, MUI menghimpun lebih dari 80 ormas Islam nasional.
Konser Bocelli Borobudur 31 Oktober kemarin, penyelenggara dan promotor utamanya adalah Shoemaker Live. Perusahaan ini didirikan oleh Prajna Murdaya. Adapun sponsornya antara lain: Bank SMBC Indonesia dan Bank BNI. Mitra penyelenggaranya adalah Jakarta International Expo (JIExpo) dan InJourney. Sedangkan Kementerian yang mendukung acara ini adalah : Kementerian Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan.
Seperti diketahui, Konser Bocelli ini mengundang ribuan demonstran turun kemarin di kawasan dekat Borubudur. Selain itu di media sosial, ribuan netizen mengecam pemerintah yang tuli terhadap peringatan MUI.
Konser Bocelli yang akan dilaksanakan besok 3 November 2026 juga mendapat penentangan keras dari berbagai ormas Islam. Pimpinan FPI berjanji akan mengerahkan ribuan massa untuk menduduki kawasan Kemayoran Jakarta, tempat berlangsungnya acara konser Bocelli nanti.
Saking marahnya kepada Bocelli, penulis terkenal Tere Liye, menjuluki Bocelli dengan buta mata dan buta hati. Lha pemerintah kok niru-niru? Wallahu ‘azizun hakim.
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik






