Poros Hidup: Dunia atau Dakwah?
Banyak orang menjadikan pekerjaannya sebagai pusat gravitasi hidup. Bangun tidur yang dipikirkan adalah deadline kerja, target proyek, atau nilai akreditasi sekolah. Itu tidak salah, tapi masalahnya: dakwah yang seharusnya jadi poros justru hanya jadi satelit kecil yang berputar di pinggiran orbit—kadang mendekat kalau sedang ada acara Ramadan, kadang menjauh ketika sudah masuk bulan-bulan sibuk.
Padahal dalam Islam, dakwah bukan aktivitas tambahan. Dakwah adalah poros. Ia bukan side job umat, ia adalah the only job yang memayungi semua aktivitas lain. Maka bekerja mencari nafkah pun uslub dakwah. Mengajar siswa pun uslub dakwah. Berkarya pun uslub dakwah. Semua ada dalam satu payung besar: dakwah Islam yang kaffah.
Dakwah Kaffah: The Only Choice
Realitas pahit hari ini: umat lebih nyaman berjuang dalam ruang-ruang yang ada sistem penghargaan duniawinya. Tapi justru di situlah penyakitnya: kita lupa bahwa tidak ada pilihan lain selain dakwah kaffah. Kalau hidup ini tidak kita pusatkan pada dakwah, maka kita sedang menjadikan sesuatu yang rapuh sebagai poros hidup. Pekerjaan bisa hilang. Jabatan bisa dicopot. Lembaga bisa runtuh. Nilai akademik bisa menguap begitu ijazah diberi. Tapi dakwah Islam? Itulah poros abadi. Itulah “the only choice”.
Sabda Rasul jelas: sebaik-baiknya umat adalah yang menyeru pada kebaikan, mencegah keburukan, dan beriman kepada Allah. Singkatnya: dakwah.
Paradoks Militan-Letoy
Mereka yang kelihatan gagah menuntaskan target duniawi tapi melemah di jalan dakwah, sebenarnya sedang mengalami paradoks eksistensial. Mereka kuat di medan yang fana, tapi jatuh di medan abadi. Mereka militan untuk dunia, tapi letoy untuk akhirat. Dan itu terjadi karena dakwah belum jadi poros hidup mereka—masih dianggap pekerjaan sampingan, bukan pilihan utama.
Kalau umat Islam ingin tegak, tidak ada pilihan lain kecuali memutar ulang orientasi hidup: dakwah sebagai pusat, yang lain hanya cabang. Dakwah bukan sekadar agenda tambahan, bukan tempelan. Ia satu-satunya pilihan jalan.
Militan dalam pekerjaan boleh, tapi harus lebih militan lagi dalam dakwah. Karena pekerjaan hanya menghidupi kita sementara, sedangkan dakwah menghidupi kita selamanya. Dakwah Islam kaffah is the only choice.[]
Muhammad Fitrianto, S.Pd.Gr., Lc, M.A., M.Pd, C.ISP, C.LQ., Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru.






