NUIM HIDAYAT

Prabowo Tahu Dirilah, ‘Berikan’ 2029 kepada Anies Baswedan

Dalam bencana besar di Sumatra, Prabowo bersikap plin-plan terhadap bantuan internasional. Beberapa hari bencana melanda banjir melanda Sumatra, Prabowo dengan tegas menolak bantuan asing. Tetapi setelah kritik tajam dari berbagai pihak, akhirnya Prabowo menerima bantuan asing.

Pemerintah juga gemar mengklaim penurunan kemiskinan. Namun standar Bank Dunia menunjukkan jutaan rakyat Indonesia masih hidup rentan dan nyaris miskin. Almarhum Faisal Basri berulang kali mengkritik model pembangunan Prabowo yang bertumpu pada proyek besar, “Proyek besar tidak otomatis membuat rakyat sejahtera. Yang penting kualitas pekerjaan dan upah.”

Ekonom lain menilai kebijakan Prabowo top-down, minim partisipasi, dan berpotensi memperlebar ketimpangan.

Prabowo vs Anies: Otot vs Otak

Bila dibandingkan kepemimpinan antara Prabowo dan Anies Baswedan, Anies jauh lebih unggul. Ini bukan soal selera politik, tetapi perbedaan kualitas kepemimpinan.

Bila dicermati, kepemimpinan Prabowo ini terlihat: mengandalkan simbol kekuatan, retorika besar- desain lemah, sensitif terhadap kritik serta sentralistik dan reaktif.

Serta kepemimpinan Anies Baswedan nampak: berbasis data dan riset, menjelaskan kebijakan secara rasional, kolaboratif dan deliberatif (berdasarkan pertimbangan yang matang dan terbuka terhadap kritik.

Rocky Gerung menyimpulkan secara tajam, “Anies berpikir. Prabowo memerintah. Negara modern butuh pemikir.”

Anies banyak dinilai unggul dalam policy design: ia merumuskan masalah, menentukan instrumen, dan menyiapkan evaluasi. Prabowo berhenti di slogan dan perintah. Sehingga ada seloroh, ”Prabowo cocok merebut kekuasaan. Anies lebih siap mengelolanya.”

Kecerdasan Anies bukan sekadar akademik, melainkan kemampuan membaca kompleksitas sosial. Ia berbicara dengan data, bukan dengan amarah. Ia menjelaskan kebijakan, bukan mengancam. Sebaliknya, Prabowo menunjukkan kecerdasan instingtif, kuat secara emosional, lemah secara konseptual.

Jika Prabowo benar-benar menempatkan bangsa di atas ego, maka memberi peran besar kepada Anies Baswedan bukan ancaman, melainkan solusi.

Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang pandai pidato. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang berpikir. Prabowo harus tahu diri. Bukan demi Anies. Tapi demi Indonesia agar cita-cita negara adil dan makmur bisa tercapai.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button