Ramadhan Momentum Menguatkan Perjuangan
Kita tentu tidak asing dengan istilah Ramadhan adalah bulan perjuangan, sebagaimana sering pula kita mendengar kisah fenomenal dari perang Badar.
Kaum Muslimin membuktikan keimanannya pada peristiwa yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah (sekitar 13 Maret 624 M) dengan kondisi berpuasa dan persenjataan serta jumlah yang tidak sebanding dengan pasukan Quraisy. Terdengar rintihan doa Rasulullah sebab pentingnya keberhasilan perang ini untuk keberlangsungan dakwah dan menentukan eksistensi Negara Islam Madinah Munawarrah yang baru tegak.
Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dalam kitab Al-Jihad dan Musnad Ahmad, Rasulullah berdoa hingga menetes air mata dari janggut beliau hingga bahu dan sorbannya:
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لَا تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok kaum Muslim ini binasa maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.”
Ramadhan menjadi momentum penting bagi umat islam dan umat manusia, sebagaimana Allah berfiman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 bahwa Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bukan hanya untuk muslim tapi untuk seluruh umat manusia agar manusia dapat membedakan haq/kebenaran dan batil/kesalahan, menjelaskan tentang do’s and don’ts dalam kehidupan, agar tidak terjebak pada Kesia-siaan, keragu-raguan, dan kehilangan arah.
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Dengan keutamaan yang besar seharusnya bukan sekedar momentum tapi menjadikan semangat pada diri untuk memperbaiki interaksi kita dengan Qur’an. Memperbaiki bacaannya jika belum lancar, belajar memahami dengan mengkajinya, dan selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga terwujud Al-Qur’an sebagai Hudan lin-nas (هُدًى لِّلنَّاسِ) berarti “petunjuk bagi manusia”.
Ramadhan seharusnya menjadi challenge dengan banyak keuntungan di dalamnya. Meningkatkan kualitas hidup dengan pembiasaan terbaik dan penguatan mental yang semakin tangguh. Jika diibaratkan seorang mahasiswa yang diberikan challenge oleh sang dosen dan mendapatkan bonus nila A+ atas keberhasilannya.
Pun sebagaimana karyawan yang diberikan challenge oleh bosnya dan mendapatkan kenaikan pangkat serta kenaikan gaji atas keberhasilannya. Mengapa tidak coba diterapkan pula hal serupa dalam memaksimalkan momentum Ramadhan ini untuk mendapatkan keberhasilan yang berlipat kehidupan di dunia dan di akhirat?
Sejatinya Al-Qur’an tidak bisa terlepas dalam mengatur realitas kehidupan manusia, sebagaimana Al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai petunjuk dan pembeda yakni memisahkan segala sesuatu sesuai petunjuk yang halal dan haram, baik dan buruk, benar dan salah. Namun yang menjadi problem mendasar saat ini, apakah Al-Qur’an sebagai kalamullah yang dengannya kita menghukumi sesuatu?






