Sandiwara Gencatan Senjata Trump
Padahal, seperti diberitakan Reuters, Iran bahkan bersedia membuka kembali Selat Hormuz sebelum isu nuklir diselesaikan sepenuhnya. Hal tersebut merupakan sebuah konsesi besar mengingat selat tersebut adalah satu-satunya kartu truf strategis milik Teheran.
Konsekuensi ekonomi dari perang ini sudah mulai terasa di seluruh dunia saat ini. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak 50 persen di atas level sebelum pecahnya perang (Guardian, 3 Mei 2026).
Blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran serta cengkeraman Iran di Selat Hormuz telah menciptakan kemacetan pasokan energi global. Ironisnya, AS kini memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak membayar “tol” kepada pihak Iran.
Ancaman sanksi tersebut terkesan sangat arogan mengingat Washington-lah pihak yang mengawali konflik ini. Ada kebohongan besar yang terus diulang oleh Trump bahwa perang ini bertujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Padahal, Iran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklir mereka bersifat damai. Fakta yang lebih penting adalah Trump sendiri yang menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA pada tahun 2018 (BBC, 3 Mei 2026).
Ia menghancurkan diplomasi, lalu menggunakan kehancuran tersebut sebagai alasan untuk memicu perang. Tindakan ini setara dengan seorang pembakar rumah yang kemudian melamar sebagai petugas pemadam kebakaran.
Strategi Trump tersebut menunjukkan pola “maximum pressure with no exit“, yakni tekanan maksimal tanpa adanya jalan keluar. Dengan menyatakan Iran “belum membayar harga cukup besar”, ia menggerakkan tujuan perdamaian terus menjauh dan membuat negosiasi hanya menjadi sandiwara.
Proposal Iran yang rasional justru berhasil memojokkan posisi Trump secara diplomatik. Dengan menawarkan konsesi nyata di Selat Hormuz, Iran telah memindahkan bola ke lapangan Amerika Serikat.
Jika Trump menolak tawaran tersebut, maka dialah yang akan tercatat sebagai penghalang perdamaian di mata dunia. Dunia saat ini sedang menyaksikan seorang presiden yang bertindak layaknya seorang laksamana bajak laut.
Ungkapan Trump sendiri, “we’re like pirates” (BBC, 3 Mei 2026), menjadi pengakuan yang jujur sekaligus sangat mengerikan. Gencatan senjata tidak boleh menjadi trik hukum untuk menghindari akuntabilitas internasional.
Jika Trump benar-benar menginginkan perdamaian, ia seharusnya menanggapi proposal Iran dengan serius. Ia tidak boleh hanya sibuk menghitung berapa banyak “harga” yang belum “dibayar” oleh musuhnya tersebut.
Sebab di mata sejarah, harga yang paling mahal akan selalu ditagihkan kepada mereka yang memilih perang ketika perdamaian masih sangat mungkin. []






