Satu Geografi, Dua Negara: Pendekatan Keamanan Arab Saudi terhadap Sudan
Riyadh memandang persatuan dan stabilitas Sudan tidak dapat dipisahkan dari keamanannya sendiri di seberang Laut Merah.
Ke-10 bidang yang dicakup oleh dewan tersebut meliputi rekonstruksi Sudan; pertanian dan ketahanan pangan; peternakan; emas dan pertambangan; Laut Merah dan pelabuhan; energi dan listrik; keuangan dan perbankan; industri dan pengolahan makanan; komunikasi dan transformasi digital; serta pariwisata, real estat, dan jasa.
Jika digabungkan, bidang-bidang ini membentuk peta jalan terpadu untuk mengubah hubungan bilateral menjadi kemitraan pembangunan yang sejati. Langkah ini memanfaatkan kemampuan investasi dan teknologi Arab Saudi serta sumber daya alam dan manusia Sudan yang luar biasa.
Menurut Menteri Luar Negeri Sudan, prioritas dewan berpusat pada keamanan, pertahanan, dan ekonomi, dengan Laut Merah ditambahkan sebagai area kerja sama strategis. Hal ini mengingat pentingnya wilayah perairan tersebut bagi kedua negara.
Oleh karena itu, Sudan bergabung dengan aliansi pertahanan maritim yang didirikan oleh Arab Saudi pada 30 Juli 2026. Hal ini mencerminkan pemahaman bersama bahwa keamanan dan stabilitas adalah prasyarat utama bagi pembangunan ekonomi.
Sudan dan Proyek Arab yang Lebih Luas
Selama lebih dari satu setengah dekade, kawasan Arab telah menyaksikan gelombang proyek fragmentasi sistematis yang menargetkan negara-negara krusial. Negara yang menjadi sasaran antara lain Irak, Suriah, Libya, Yaman, dan Somalia.
Negara-negara yang pernah memainkan peran aktif dalam tatanan regional telah diubah menjadi arena konflik terbuka. Arena ini dikelola oleh aktor-aktor regional dan internasional melalui kaki tangan lokal (proxies).
Dengan sumber daya yang melimpah dan lokasi vital yang menghubungkan dunia Arab dengan pedalaman Afrika, Sudan selalu menjadi sasaran empuk bagi proyek perpecahan tersebut. Kondisi ini mengancam keutuhan wilayah Sudan secara keseluruhan.
Ketika Arab Saudi bertindak untuk mendukung jalur yang menjaga persatuan negara Sudan dan lembaga-lembaga nasionalnya, langkah ini berkontribusi menggagalkan proyek perpecahan tersebut. Tindakan Riyadh membendung skema yang menargetkan dunia Arab secara keseluruhan.
Setiap negara Arab yang dilindungi dari fragmentasi mewakili kekalahan lain bagi proyek perpecahan ini. Dari perspektif ini, stabilitas Sudan adalah pertempuran kolektif Arab di mana Arab Saudi memimpin di garis depan.
Sudan dalam Persamaan Regional
Sudan menempati posisi unik yang menjadikannya salah satu kunci strategis terpenting di kawasan. Sudan adalah negara Arab yang berbatasan langsung dengan Laut Merah dan Sungai Nil.
Negara ini menghubungkan Tanduk Afrika dengan Sahara, Sahel, dan pedalaman Arab, serta berbatasan dengan tujuh negara Afrika dan Arab. Lokasi ini menjadikan Sudan sebagai jembatan alami antara dunia Arab dan Afrika.
Jika sebuah negara di posisi strategis tersebut pecah, hal itu akan membuka retakan geopolitik yang dampaknya meluas. Efek domino akan membentang dari Cekungan Nil hingga Selat Bab al-Mandeb.
Pengalaman terbaru di Yaman telah menunjukkan secara jelas bagaimana runtuhnya sebuah negara di Laut Merah dapat mengubah titik leher maritim (chokepoint) yang vital. Bab al-Mandeb berubah dari jalur perdagangan yang aman menjadi arena ancaman langsung.
Arab Saudi telah membayar harga mahal baik dari segi keamanan maupun ekonomi akibat perang di Yaman. Riyadh menyadari bahwa keamanan jalur laut tidak dapat dijaga hanya dengan mengawasi perairannya saja.






