Shalat Istisqa: Tata Cara, Syarat, dan Keutamaannya
Kaifiyah (Tata Cara) Shalat Istisqa
Tata cara pelaksanaan shalat Istisqa pada dasarnya mirip dengan shalat Idulfitri atau Iduladha, yaitu terdiri atas dua rakaat secara berjamaah tanpa azan maupun ikamah. Petugas cukup menyerukan panggilan “As-shalatu jami’ah” untuk mengumpulkan jemaah.
Pada rakaat pertama, setelah takbiratulihram dan doa iftitah, imam membaca takbir tambahan sebanyak tujuh kali. Di antara sela-sela takbir, jemaah membaca kalimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
Setelah membaca Surah Al-Fatihah dan surah pendek secara nyaring (jahar), pelaksanaan rukun shalat seperti rukuk dan sujud dilakukan sebagaimana mestinya. Pada rakaat kedua, takbir tambahan dibaca sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
Setelah menyelesaikan dua rakaat dan membaca tasyahud akhir, shalat diakhiri dengan salam. Rangkaian ibadah kemudian dilanjutkan dengan penyampaian khotbah oleh khatib.
Apakah Shalat Istisqa Ada Khotbahnya?
Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menegaskan bahwa shalat Istisqa dilengkapi dengan khotbah. Khotbah ini dilaksanakan setelah shalat selesai, sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat ‘Iid.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa khotbah shalat Istisqa sunnah dilakukan satu atau dua kali setelah shalat. Khotbah tersebut berisi seruan untuk memperbanyak istighfar, bertobat, dan memanjatkan doa memohon hujan.
Salah satu dalil Al-Qur’an yang menjadi dasar keutamaan istighfar dalam membuka pintu rezeki dan turunnya hujan terdapat dalam Surah Nuh ayat 10–11:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’”
Di tengah khotbah, khatib disunnahkan membalikkan selendang atau jubah yang dikenakannya sebagai simbol harapan akan perubahan kondisi dari kemarau menuju keteduhan. Khatib kemudian menghadap ke arah kiblat sembari mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk memanjatkan doa bersama jemaah.
Doa-Doa Pilihan Saat Istisqa
Doa yang dipanjatkan saat shalat Istisqa merupakan inti permohonan seorang hamba. Rasulullah Saw. mengajarkan kalimat-kalimat doa yang penuh harapan agar hujan yang turun membawa keberkahan dan bukan kemudaratan.
Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. sering membaca doa berikut saat memohon hujan:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آَجِلٍ
“Ya Allah, siramilah kami dengan hujan yang merata, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, secepatnya dan tidak ditunda-tunda.”
Umat Islam juga diajarkan untuk memohon agar hujan tersebut menjadi rahmat yang menghidupkan tanah mati. Ketundukan dalam berdoa inilah yang menjadi kunci utama dikabulkannya permohonan hamba oleh Allah Swt.






