Silatnas XIII Pesantren Elkisi: Merajut Ukhuwah, Menjaga Kemandirian
Menjadi Cabang Resmi Al-Azhar Kairo
Salah satu capaian besar Pesantren Elkisi adalah terjalinnya kerja sama resmi dengan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
KH Fathur menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan perguruan tinggi dalam negeri dari jenjang S-1 hingga S-3. Namun, ia bercita-cita agar para santrinya mampu menembus perguruan tinggi terbaik dunia.
Keinginan itu dipertemukan Allah Swt. dengan Syekh Ahmad di Mesir saat ia mengurus putranya yang sedang belajar di Al-Azhar. Tiga bulan setelah pensiun, Syekh Ahmad bahkan datang ke Indonesia untuk membantu pengembangan Elkisi.
Melalui hubungan itulah Pesantren Elkisi resmi menjadi cabang Pesantren Al-Azhar Kairo. “Dengan status ini, santri Elkisi yang ingin melanjutkan studi ke Al-Azhar memperoleh kemudahan. Di Elkisi sendiri kurikulum Al-Azhar sudah diterapkan,” jelasnya.
Bagi masyarakat umum yang ingin melanjutkan studi ke Al-Azhar, pesantren membuka program Markaz al-Lughah Elkisi sebagai pusat pembelajaran bahasa Arab.

Ratusan Santri Berangkat ke Mesir
Program pengiriman santri ke Al-Azhar terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Tahun lalu kami memberangkatkan 75 santri. Tahun ini, insya Allah, sebanyak 127 santri akan berangkat ke Al-Azhar dan akan kami antar pada bulan Agustus.”
Pesantren juga memberikan beasiswa kepada santri Elkisi yang melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar.
Dakwah Menjadi Prioritas
Menurut KH Fathur, dakwah harus menjadi prioritas utama pendidikan pesantren. Ia mengaku memperoleh banyak pengakuan dari para santri dan alumni yang telah berdakwah di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste.
Kedua wilayah tersebut akan dijadikan laboratorium dakwah bagi Pesantren Elkisi. “Santri Elkisi apa pun profesinya nanti, mereka tidak boleh melupakan dakwah.”
Untuk mendukung tujuan itu, Elkisi berupaya mempercepat proses pendidikan sehingga para santri memiliki waktu lebih banyak untuk mengabdi.
Tiga bulan setelah ini, pesantren akan mengirim santri untuk berdakwah selama dua bulan ke berbagai daerah seperti NTT, Timor Leste, Ambon, Kalimantan, dan Maluku. “Mereka boleh menjadi tentara, polisi, profesional, atau apa pun. Tetapi, mereka tetap seorang dai.”
Ia membayangkan setiap kabupaten memiliki generasi muda yang bekerja sesuai profesi pada pagi hari, tetapi tetap mengajar mengaji dan berdakwah pada malam hari.
Mencetak Dai Melalui Berbagai Bidang
KH Fathur menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar masjid. Karena itulah Elkisi juga mengembangkan Pesantren Sepak Bola, sebuah konsep yang masih sangat langka di Indonesia.
Ia terinspirasi oleh sosok Ustaz Rusdi Bahalwan, mantan pemain Persebaya yang kemudian menjadi pelatih sekaligus dai. “Saya berpikir dakwah itu multidimensi. Melalui sepak bola pun akan lahir para dai di lapangan.”
Menurutnya, jumlah masyarakat yang berkumpul di lapangan sepak bola sering kali jauh lebih besar dibandingkan jamaah di masjid. “Anak-anak berkumpul di lapangan. Di situlah dakwah juga harus hadir.”






