Staf PBB Dukung Francesca Albanese, Kecam Menteri Eropa
Albanese, seorang pengacara HAM asal Italia, ditunjuk sebagai pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki pada Mei 2022. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh global paling vokal dalam mengkritik perang Israel di Gaza yang ia sebut sebagai genosida, serta dalam membela hak-hak Palestina—sikap yang membuatnya kerap menjadi sasaran serangan dari pemerintah dan organisasi pro-Israel.
Ia juga mendapat dukungan dari UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), yang menyatakan bahwa serangan terbaru terhadap Albanese bertujuan “membungkam suaranya dan melemahkan mekanisme pelaporan HAM independen yang tersisa”.
Mantan Direktur Komunikasi UNRWA, Chris Gunness, menyebut politisi pro-Israel di negara donor sebagai pihak yang banyak bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Lebih dari 100 seniman juga menyatakan dukungan kepada Albanese di tengah meningkatnya seruan pengunduran dirinya.
Di sisi lain, komentar juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yaitu Stephane Dujarric, memicu reaksi di kalangan staf PBB. Ia menyatakan bahwa lembaga pelapor khusus merupakan bagian penting dari arsitektur HAM internasional, meskipun PBB tidak selalu sependapat dengan pernyataan mereka, termasuk Albanese.
Namun, sebagian pihak menilai Dujarric seharusnya menegaskan bahwa kutipan yang disematkan kepada Albanese adalah tidak benar, serta menyerukan penghormatan terhadap integritas sistem HAM PBB.
Sejumlah pejabat Eropa juga menuai kritik atas serangan mereka terhadap Albanese.
Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, menyatakan bahwa tindakan para menteri tersebut “patut dikecam”, karena didasarkan pada video yang sengaja dipotong untuk memelintir makna pernyataan Albanese.
Ia menuduh sebagian menteri telah menyebarkan disinformasi dan menuntut permintaan maaf.
“Seandainya para menteri ini bersuara sekeras itu dalam menghadapi negara yang melakukan genosida, pendudukan ilegal, dan apartheid, seperti halnya mereka menyerang seorang pakar PBB,” tulis Callamard. “Sikap pengecut dan keengganan mereka meminta pertanggungjawaban Israel sangat kontras dengan komitmen teguh Pelapor Khusus untuk menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan.”
Meski mendapat kritik luas, Menteri Luar Negeri Prancis Barrot belum menarik kembali seruannya agar Albanese mundur.
Sementara itu, Schams El Ghoneimi, mantan penasihat kawasan MENA (Middle East and North Africa) untuk Presiden Prancis Emmanuel Macron di Parlemen Eropa, juga mengkritik posisi pemerintah Prancis.
“Sulit dibayangkan bagi saya melihat Prancis berpihak pada propaganda otoritas Israel terhadap pelapor khusus PBB,” ujarnya.
“Apakah pemerintah kita ingin teguh pada hukum internasional—dan karena itu mengecam pelanggaran Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza dan Tepi Barat? Atau justru berpihak pada propaganda tersebut? Kredibilitas Prancis sedang dipertaruhkan.”
Sumber: Al Jazeera




