SEHAT

Surakarta Darurat TBC, Ratusan Kasus Baru Ditemukan

Surakarta (SI Online) – Pemerintah Kota Surakarta tengah meningkatkan kewaspadaan menyusul temuan ratusan kasus baru Tuberkulosis (TBC) yang tersebar di berbagai wilayah.

Hingga triwulan pertama tahun 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta mencatat adanya tren kenaikan angka penularan yang signifikan di pemukiman padat penduduk.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga Maret 2026, tercatat sedikitnya 405 hingga 450 kasus baru TBC. Angka ini menambah akumulasi total kasus yang sedang ditangani sejak tahun 2025 menjadi 2.269 kasus.

“Kami menemukan bahwa sebaran kasus tertinggi saat ini berada di wilayah Kecamatan Jebres dan Kelurahan Mojosongo. Karakteristik wilayah yang padat penduduk dengan mobilitas tinggi menjadi faktor utama percepatan penularan lewat droplet di ruang publik,” ujar Retno dalam keterangannya di Solo, Kamis (23/4/2026).

Hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa sanitasi dan kondisi hunian yang buruk menjadi pemicu utama bakteri Mycobacterium tuberculosis berkembang biak. Banyak ditemukan rumah warga yang memiliki ventilasi minim, kurang cahaya matahari, serta tingkat kelembapan yang tinggi.

Selain faktor lingkungan, Retno juga menyoroti masalah kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat.

“Data kami menunjukkan sekitar 20 persen pasien berisiko putus obat karena merasa sudah sehat sebelum masa pengobatan selesai. Ini sangat berbahaya karena bisa memicu TBC Resisten Obat (TBC-RO) yang jauh lebih sulit disembuhkan,” tambahnya.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, telah menginstruksikan seluruh jajaran Puskesmas dan kader kesehatan untuk melakukan pelacakan (tracing) secara masif. Pemerintah Kota juga meluncurkan program “Kelurahan Peduli TBC” untuk memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan hingga dinyatakan sembuh total.

Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesacehkab.org

“Kami tidak ingin sekadar mengobati, tapi juga memutus rantai penularan melalui perbaikan sanitasi lingkungan di wilayah-wilayah merah tersebut,” tegas Respati.[dbs]

Back to top button