OPINI

Syekh Hamad bin Khalifa: Perisai Kemerdekaan Pers dan Visi Lahirnya Al Jazeera

Ruang redaksi pertama kami berukuran sangat kecil. Tepat di sebelahnya, terdapat sebuah studio siaran yang juga berukuran mini.

Di bagian belakang gedung, hanya ada lima ruang penyuntingan kecil, perpustakaan kaset, kantor pemimpin redaksi, serta ruangan untuk direktur jenderal beserta stafnya. Jelas sekali bahwa gagasan mendirikan saluran televisi ini telah lama berkembang dalam benak sang konseptor proyek.

Fondasinya telah disiapkan dengan matang bahkan sebelum para jurnalis, teknisi, dan administrator didatangkan untuk mengisi ruang redaksi. Mereka hadir untuk mengerahkan seluruh kemampuan serta pengalaman terbaik mereka.

Sama jelasnya bahwa mereka yang merancang gedung tersebut tidak pernah membayangkan betapa cepatnya saluran ini akan berkembang pesat. Dalam beberapa tahun saja, gedung itu menjadi terlalu kecil dan fasilitasnya tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan ekspansi jaringan.

Namun bagi kami semua, tempat sederhana itu adalah sebuah rumah yang sangat hangat. Keakraban di dalamnya justru memberi kami energi dan tekad yang lebih besar untuk membangun sebuah saluran televisi yang kuat.

Kami berkomitmen menyaingi media-media global yang telah lebih dahulu berdiri. Selain itu, kita ingin mengubah keseimbangan informasi dunia antara Utara dan Selatan Global (Global South).

Selama lima bulan masa siaran percobaan, tim kami tumbuh semakin kuat dan solid dari hari ke hari. Namun, kami semua sempat bertanya-tanya apakah kebebasan yang dijanjikan kepada kami benar-benar nyata.

Keraguan tersebut perlahan menghilang setiap kali kami berhasil menyelesaikan sebuah buletin berita. Kami sama sekali tidak melihat adanya campur tangan penguasa terhadap isi berita, laporan, maupun cara sebuah peristiwa diberitakan.

Tak lama kemudian, rasa frustrasi kami berubah bentuk menjadi sebuah kebanggaan. Kami berhasil menghasilkan buletin berita yang mampu menandingi kualitas BBC, bahkan melampauinya, tetapi belum ada penonton luas yang dapat menyaksikannya.

Pada 1 November 1996, media Arab akhirnya resmi menemukan suaranya yang merdeka. Dalam buletin berita pertama Al Jazeera, almarhum Jamal Rayyan mengumumkan kepada dunia bahwa saluran tersebut resmi mengudara.

Orang yang telah menjanjikan kebebasan redaksi kepada kami benar-benar menepati janjinya secara jantan. Tidak ada foto dirinya terpajang dalam buletin berita itu, dan tidak ada pula berita seremonial tentang dirinya.

Masyarakat di seluruh dunia Arab hampir tidak percaya bahwa buletin berita dan program dialog yang mereka saksikan disiarkan langsung dari kawasan Teluk. Selama ini, mereka telah terbiasa dengan televisi milik pemerintah yang hanya memuji penguasa.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button