Syekh Hamad bin Khalifa: Perisai Kemerdekaan Pers dan Visi Lahirnya Al Jazeera
Media-media lama tidak pernah diizinkan turun ke lapangan untuk menyaksikan kenyataan, menyampaikan persoalan rakyat secara bebas, atau memberi ruang kepada masyarakat. Mereka kini bisa mengungkapkan kegembiraan maupun kesedihan serta berbicara terbuka mengenai impian dan pandangan mereka.
Orang di balik gagasan dan proyek besar ini selalu mengawasi perkembangan kami dengan saksama. Ia sesekali datang berkunjung untuk memberikan arahan umum, dorongan semangat, bahkan kadang bercanda bersama kami di ruang redaksi.
Namun, Syekh Hamad tidak pernah sekalipun mencampuri sebuah laporan berita ataupun program dialog yang kami produksi. Demikian pula dengan para pembantu setianya yang ia percayai untuk mengawasi proyek besar tersebut.
Ia memberikan janji kebebasan pers dan ia menepatinya secara konsisten. Saat itulah kami tahu bahwa keberhasilan besar akan menjadi milik kami.
Namun, izinkan saya memajukan kamera waktu agar tidak terlalu lama berada di masa lalu.
Dalam hitungan bulan, pihak-pihak global mulai menyadari kemunculan sebuah saluran baru dari wilayah Selatan Global. Mereka mulai menyiarkan ulang laporan-laporan kami karena Al Jazeera beserta para korespondennya hadir di tempat-tempat konflik yang bahkan mereka sendiri enggan memasukinya.
Gambar-gambar penderitaan anak-anak di Palestina, Irak, Afghanistan, dan berbagai wilayah tertindas disiarkan secara eksklusif oleh Al Jazeera. Pengakuan dunia itu segera berubah menjadi kesadaran kolektif bahwa Al Jazeera telah mengambil posisi terdepan.
Keberhasilan tersebut menuntut jangkauan yang lebih luas kepada khalayak yang berbahasa selain Arab. Lahirlah Al Jazeera English, disusul dengan kehadiran jaringan ini di dunia digital secara masif.
Langkah ini mengubah Al Jazeera dari sebuah saluran televisi biasa menjadi jaringan media internasional yang berbicara kepada seluruh dunia. Jaringan ini menjembatani arus informasi baik di belahan bumi Utara maupun Selatan.
Di situlah letak titik terobosan penting kami. Selama puluhan tahun, arus berita global hanya mengalir ke satu arah yang tidak adil.
Kamera-kamera Barat merekam dunia hanya melalui mata dan pemahaman Barat. Sudut pandang tersebut sering kali dibentuk oleh bias kolonial dan budaya, baik yang tampak jelas maupun yang tersembunyi di balik narasi berita.
Persamaan dalam dunia media pun akhirnya berhasil kami ubah. Kini, berita dapat mengalir dengan seimbang dari Selatan menuju Utara, dilihat melalui mata masyarakat dan tempat asal berita itu sendiri tanpa distorsi.
Jangkauan Al Jazeera yang semakin luas juga berhasil mengubah lanskap budaya dan intelektual di Selatan Global. Ia membuka cakrawala pemikiran baru di dunia Islam yang lebih luas, di negara-negara berkembang, bahkan hingga ke Barat yang jauh.
Namun, bertahun-tahun kemudian kami belajar bahwa sebuah keberhasilan sering kali membawa konsekuensi perjuangan yang sangat menyakitkan. Sebagian tekanan datang dari kawasan sekitar kami, dan lebih banyak lagi datang dari tempat-tempat yang lebih jauh.






