Syekh Hamad bin Khalifa: Perisai Kemerdekaan Pers dan Visi Lahirnya Al Jazeera
Rezim di kawasan sekitar kami ternyata tidak mampu menerima kebebasan berbicara (freedom of speech) beserta dampak politiknya. Karena ketakutan tersebut, mereka akhirnya menciptakan musuh bagi diri mereka sendiri.
Kantor-kantor cabang Al Jazeera ditutup secara paksa di beberapa negara. Para koresponden kami diburu, ditangkap, bahkan dibunuh di medan laga.
Negara yang menjadi tuan rumah jaringan ini pun tidak luput menjadi sasaran serangan diplomasi dan media yang sangat sengit. Inilah fenomena yang kemudian disebut sebagai “Sindrom Al Jazeera.”
Di luar kawasan Teluk, kantor-kantor Al Jazeera dibom secara brutal oleh kekuatan militer asing. Para reporter dan juru kamera kami dibunuh, dipenjara, serta disiksa demi membungkam kebenaran.
Tekanan politik terhadap negara yang menjadi markas besar jaringan ini pun semakin meningkat dari hari ke hari. Namun, Syekh Hamad tidak pernah sekalipun menyerah atau tunduk pada tekanan tersebut.
Dengan keberanian yang menjadi ciri khasnya, ia sering bertanya kepada orang-orang di sekitarnya yang bersikap memusuhi media. “Kapan kalian akan berhenti menganggap kebebasan berbicara sebagai musuh?” tanyanya retoris.
Dan kepada mereka yang berada di Barat, ia menyindir dengan tajam. “Bukankah selama bertahun-tahun kalian yang selalu berkhotbah tentang kebebasan berekspresi, demokrasi, dan hak setiap manusia untuk mengetahui?” ucapnya.
Syekh Hamad adalah perisai yang sesungguhnya bagi jaringan ini dan bagi semua orang yang bekerja di dalamnya. Beliau bersama orang-orang yang dipercayainya untuk menjalankan Al Jazeera selalu berkata tegas kepada kami.
“Satu-satunya garis merah bagi kalian adalah aturan profesi jurnalistik yang jujur. Tidak ada yang lain,” tegasnya.
Semoga Allah Swt. merahmati sosok agung di balik gagasan dan proyek besar yang bersejarah ini. Kami berjanji akan terus melanjutkan perjalanan dakwah dan informasi di atas jalan merdeka yang telah ia buka.[]
*Ahmed Al Sheikh adalah mantan pemimpin redaksi Al Jazeera Arabic. Sebelum bergabung dengan Al Jazeera pada tahun 1996, ia bekerja di BBC Arabic. Ia telah berkecimpung di dunia media selama hampir 40 tahun.
Sumber: Aljazeera.com






