Syekh Hamad, Pemimpin Arab yang Mematahkan Blokade Israel atas Gaza
Dikenang sebagai pembela teguh hak-hak rakyat Palestina, Amir Bapak Qatar yang wafat menjadi pemimpin Arab pertama yang mematahkan blokade terhadap Gaza.
Rasa Sakit Pribadi dan Ujung Tombak Pembebasan
Komitmennya terhadap perjuangan Palestina telah ada jauh sebelum blokade Gaza diberlakukan.
Pada 1999, Syekh Hamad menjadi pemimpin negara Teluk pertama yang mengunjungi wilayah Palestina sejak 1967. Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan Presiden Palestina saat itu, Yasser Arafat, di tengah kebuntuan politik yang kritis.
Menurut Ahmed al-Syekh, sang emir memandang perjuangan Palestina secara sangat pribadi.
Ketika mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, mengepung markas Arafat di Ramallah, Syekh Hamad sangat terpukul. Ia bahkan mengatakan kepada para pembantunya bahwa ketika Sharon menyerang Muqata’a, rasanya seperti menyerang Qatar sendiri.
Keterikatannya dengan Palestina juga disertai penyesalan karena ia belum pernah mengunjungi Yerusalem sebelum kota itu diduduki Israel pada 1967.
Baca juga: Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, Arsitek Qatar Modern
Menurut al-Syekh, penyesalan itu mendorong Syekh Hamad memerintahkan pembuatan sebuah film dokumenter berdurasi tiga jam tentang Yerusalem. Film ini dibuat untuk merekam sejarah dan identitas kota suci tersebut.
Alih-alih bergantung sepenuhnya pada campur tangan internasional, Syekh Hamad meyakini bahwa rakyat Palestina sendirilah yang menjadi penggerak utama perjuangan mereka.
Suatu ketika ia berkata kepada al-Syekh: “Kalianlah yang harus melakukan tindakan utama, dan tanpa tindakan itu tidak akan ada pembebasan.”
Menentang Konsensus Regional
Sikap tersebut sering membuat Syekh Hamad berbeda pandangan dengan mayoritas negara kawasan.
Selama perang Israel yang menghancurkan Gaza pada 2008–2009, muncul perpecahan tajam di antara negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengenai cara merespons krisis tersebut.
Syekh Hamad menyerukan penyelenggaraan KTT Darurat Arab di Doha. Ia mengusulkan pembentukan dana rekonstruksi sebesar 250 juta dolar AS serta pembukaan jalur laut untuk menerobos blokade Gaza.
Dalam siaran televisi langsung, ia mengungkapkan kekecewaannya karena minimnya kehadiran para pemimpin Arab pada pertemuan darurat tersebut.
Ia berkata: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung urusan.”






