OASE

Tipologi Nafsu Manusia

Karena itu, manusia tidak boleh hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti makan, minum, dan syahwat. Jika demikian, manusia justru bisa menjadi lebih buruk daripada binatang. Binatang tidak dibebani tanggung jawab moral, sedangkan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya bahwa banyak manusia yang memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, sehingga mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi (QS. Al-A’raf [7]: 179).

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita berusaha melakukan transformasi diri. Dari sifat malas menuju semangat memperjuangkan kebenaran, dari sikap pengecut menjadi keberanian dalam membela kebenaran, dari kebodohan menuju ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah (khasyyatullah), dari ketidakjujuran menuju amanah dan profesionalitas, dari kecintaan terhadap jabatan menuju kesadaran akan beratnya tanggung jawab, dari kekikiran menuju kedermawanan, serta dari kebiasaan berdusta menuju kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.

Bagi siapa saja yang belum menyadari bahaya tipuan nafsu, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat mendalam:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ۝ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang?”
(QS. Al-Infithar [82]: 6–7)

Akhirnya, pengendalian nafsu merupakan kunci utama dalam perjalanan hidup manusia. Dari situlah kualitas diri ditentukan, apakah ia akan naik menuju derajat kemuliaan atau justru jatuh ke dalam kehinaan. Wallahu a‘lam bish-shawab

Prof Dr KH Badruddin Subky, Pimpinan Ponpes Al-Badar, Kota Bogor

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button