Trump dalam Posisi Sulit, Tampak Kegagalan AS di Iran
Oleh: Andrew Roth di Washington
Washington kini menghadapi pilihan sulit antara memulai perang ekonomi jangka panjang atau mengambil aksi militer berisiko tinggi guna membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini nilainya dianggap lebih strategis bagi Iran daripada senjata nuklir.
Donald Trump mulai merasakan secara langsung dampak berbahaya dari meluasnya cakupan misi militer yang tidak terduga atau mission creep.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki minggu kedelapan, durasi yang dua kali lebih lama daripada perkiraan awal presiden saat pesawat tempur AS meluncurkan serangan bersama pasukan Israel untuk melumpuhkan kepemimpinan serta kekuatan militer Iran.
Meskipun serangan militer tersebut dinilai berhasil secara taktis, berbagai prediksi mengenai dampak politik yang akan menyusul setelahnya terbukti tidak akurat.
Iran berhasil bertahan dari gempuran awal dan tetap menunjukkan perlawanan sengit melalui penutupan Selat Hormuz, sebuah langkah yang memblokir sekitar seperlima jalur perdagangan minyak global.
Amerika Serikat merespons tindakan tersebut dengan menerapkan blokade tandingan guna menahan distribusi minyak Iran yang menyebabkan kerugian bagi Teheran sekitar 500 juta dolar per hari sekaligus mengancam keberlangsungan produksi energi jangka panjang negara tersebut.
Namun, proses negosiasi saat ini mengalami jalan buntu dan belum ada kepastian apakah Gedung Putih bersedia menanggung beban ekonomi akibat perang yang berkepanjangan atau mengambil risiko operasi militer demi membuka kembali jalur selat tersebut.
“Konflik ini telah berubah, dari yang semula merupakan perang pilihan menjadi sebuah perang kebutuhan,” ujar Aaron David Miller, seorang analis di Carnegie Endowment sekaligus mantan diplomat dan negosiator Amerika Serikat untuk Timur Tengah.
Pertikaian ini telah bertransformasi dari sekadar konflik regional antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi sebuah krisis ekonomi global yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Pada minggu ini saja, harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir dan diprediksi akan terus melonjak menjelang pemilihan umum paruh waktu yang krusial bagi Partai Demokrat untuk merebut kembali kursi di Kongres.
“Kondisi saat ini tidak mungkin lagi dapat dipertahankan sehingga harus segera ditemukan solusi yang tepat,” tegas Miller.
“Menurut pandangan saya, pemerintahan saat ini benar-benar berada dalam posisi yang sangat sulit,” tambahnya.
Meski demikian, solusi diplomatik tetap menjadi hal yang sangat sulit untuk dicapai oleh kedua belah pihak.





